Suarastra.com– Sebermula, pada 28 September 1782, tersebutlah sebuah titian sejarah di tanah Kutai. Pada hari itulah Sultan Aji Muhammad Muslihuddin, yang masyhur disebut Aji Imbut, Raja ke-15 Kerajaan Kutai Kartanegara, memindahkan pusat pemerintahannya ke sebuah tepian yang pada mulanya bernama Tepian Pandan.
Maka dari tepian itulah sebuah kota mulai menulis hikayatnya. Tepian Pandan kemudian dikenal sebagai Tangga Arung, dan dari nama itulah zaman membawa sebutan yang lebih akrab, Tenggarong.
Sejak hari itu, waktu berjalan panjang. Musim datang silih berganti, generasi tumbuh lalu berganti, namun Tenggarong tetap berdiri di tepian Mahakam, menyimpan jejak orang-orang yang pernah hidup, berjuang, bermimpi, dan menanam harapan di tanah yang mereka cintai.
Maka 28 September bukan sekadar tanggal yang ditulis dalam penanggalan. Ia adalah pintu untuk mengenang perjalanan. 244 tahun bukan sekadar bilangan. Di dalamnya ada kisah tentang perjuangan, ada adat yang dipelihara, ada kebudayaan yang diwariskan, ada kehidupan masyarakat yang terus bertumbuh, dan ada doa-doa yang pernah dipanjatkan agar negeri ini senantiasa berada dalam kebaikan.
Syahdan, setiap zaman mempunyai caranya sendiri dalam menorehkan cerita. Ada masa ketika langkah masih sederhana, ada masa ketika kota mulai berkembang, dan ada pula masa ketika generasi baharu datang membawa wajah zaman yang berbeda. Namun sebuah kota akan tetap mempunyai jiwa selama manusia di dalamnya masih mengingat asalnya.
Demikianlah Tenggarong. Ia tumbuh bukan hanya dari bangunan dan jalan, melainkan dari hubungan antara manusia dengan negerinya, antara rakyat dengan pemimpinnya, dan si antara masa lainnya..
Maka pada peringatan hari jadinya tahun ini, terdengarlah sebuah tema yang mengandung makna.
“Manunggal Raja Bersama Rakyatnya – Raja Menjamu Rakyatnya.”
Di dalamnya tersimpan gambaran tentang kedekatan, tentang duduk bersama tanpa jarak, tentang pemimpin yang hadir di tengah rakyat, dan rakyat yang menjadi bagian daripada perjalanan negeri.
Sebab pada akhirnya, kemuliaan sebuah kota bukan hanya terletak pada lamanya usia, tetapi pada seberapa jauh manusia di dalamnya mampu menjaga persaudaraan, memelihara kebudayaan, serta meneruskan kebaikan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Wahai Tenggarong, dua ratus empat puluh empat tahun telah engkau lalui. Biarlah Mahakam menjadi saksi, bahwa zaman boleh berubah, nama boleh tumbuh menjadi lebih dikenal, dan kota boleh semakin maju, tetapi akar sejarah janganlah dicabut. Sebab bangsa yang mengenal asal-usulnya akan tahu ke mana hendak melangkah.
Maka berjalanlah, Tenggarong, menuju hari-hari yang belum tertulis. Bawalah sejarah sebagai ingatan, kebudayaan sebagai jati diri, persatuan sebagai kekuatan, dan rakyat sebagai denyut kehidupanmu.
Selamat Hari Jadi Kota Tenggarong.
Dua ratus empat puluh empat tahun telah menjadi hikayat. Semoga tahun-tahun yang akan datang menjadi lembaran baharu yang ditulis dengan kebersamaan, kemajuan, dan kesejahteraan.
Dan kelak, apabila anak cucu membuka kembali lembaran sejarah ini, mereka akan menemukan sebuah nama yang tetap hidup di tepian Mahakam.
Tenggarong, kota yang tumbuh bersama rakyatnya, dan bertahan karena tidak melupakan sejarahnya.
Penulis : Avisapranatungga

