Suarastra.com – Orang-orang tua dahulu mengajarkan, bahwa tidak semua yang berharga harus tampak indah, dan tidak semua yang sederhana kehilangan nilainya. Buah bolok tumbuh di bumi Kalimantan, menjadi bagian dari kekayaan alam yang diwariskan oleh waktu. Barangkali tidak banyak orang mengenalnya, tidak pula selalu disebut dalam percakapan.
Namun, sebagaimana buah-buahan hutan lainnya, ia menyimpan cerita tentang alam dan kehidupan. Begitulah manusia. Ada yang namanya harum ke mana-mana, ada pula yang hidup sederhana tanpa banyak dikenal. Namun, kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh seberapa banyak orang menyebut namanya, melainkan oleh seberapa besar manfaat yang diberikannya.
Janganlah malu menjadi sederhana. Sebab pohon yang berbuah tidak pernah membanggakan dirinya, tetapi orang-orang datang untuk menikmati hasilnya.
Petuah lama berkata,
“Jangan mengejar nama hingga lupa menanam budi. Jangan meninggikan diri hingga lupa merendahkan hati. Sebab yang dikenang bukanlah siapa yang paling tinggi berdiri, melainkan siapa yang paling banyak memberi.”
Pada akhirnya, alam mengajarkan manusia tentang kerendahan hati. Setiap pohon mempunyai buahnya, setiap buah mempunyai rasanya, dan setiap kehidupan mempunyai manfaatnya.
Sederhana bukan berarti tiada berharga. Adakalanya, yang jarang dipandang justru menyimpan makna yang paling dalam.
Kalau ingin, buah bolok ini bisa kita jadikan bagian dari seri tulisan sastra petuah alam Kalimantan, bersama kasturi, lai, kapul, dan buah-buahan leluhur lainnya.
Penulis : Avisapranatungga

