Suarastra.com – Saat yang lain merindu purnama, maka aku merindu Fajar yang telah hadir sebelum sang surya terbangun. Sebab bagiku, purnama hanyalah cahaya yang singgah di tengah malam, sedang Fajar ialah janji yang datang tatkala dunia masih berselimut kelam. Ia hadir tanpa mahkota, tiada pula membawa gemerlap, namun dalam diamnya tersimpan harapan yang tiada terbilang.
Adapun rinduku ini bukanlah rindu kepada cahaya semata, melainkan kepada hadirmu yang pernah menyentuh relung jiwa, sebelum hari mengenal terang, sebelum burung-burung mengalunkan madahnya, dan sebelum angin pagi membawa kabar tentang kehidupan.
Wahai Fajar, engkau datang tatkala segala mata masih terpejam. Tiada yang menyambutmu dengan sorak, tiada yang memujamu dengan pujian. Namun engkau tetap hadir, perlahan-lahan menyingkap tirai malam, seakan hendak berpesan kepada alam bahwa setiap gelap mempunyai batas, dan setiap penantian menyimpan kemungkinan akan bertemu dengan cahaya.
Maka jika orang bertanya kepadaku, mengapa bukan purnama yang kurindu, niscaya akan kujawab dengan segala kerendahan hati,
“Purnama itu elok dipandang mata, tetapi Fajar mengajarkan hati tentang harapan. Purnama menerangi malam yang telah tiba, sedang Fajar menjanjikan hari yang belum bermula.”
Dan apabila kelak sang surya telah meninggi, menghapus sisa kabut di hujung cakrawala, janganlah engkau menyangka bahwa rinduku telah selesai. Sebab Fajar yang kurindu bukan semata-mata waktu di antara malam dan siang, melainkan suatu kehadiran yang membuatku percaya bahwa sesudah segala kelam, masih ada sesuatu yang patut dinanti.
Jika takdir mempertemukan, biarlah kita bersua dalam keredaan. Jika takdir memisahkan, biarlah doa menjadi titian, sebab tiada kasih yang benar-benar mulia apabila ia memaksa, dan tiada rindu yang benar-benar suci apabila ia menuntut untuk dimiliki.
Cukuplah aku menjadi insan yang mengenang, sedang engkau tetap menjadi Fajar yang diam-diam kunantikan.
Sebab tidak semua yang dirindu harus digenggam, tidak semua yang dicintai harus dimiliki. Ada yang dititipkan Tuhan ke dalam hati agar manusia belajar menghargai, bukan menguasai, belajar merelakan, bukan melupakan.
Petuah Fajar
“Janganlah engkau hanya terpukau akan purnama yang bercahaya, hingga terlupa akan Fajar yang datang membawa harapan. Sebab keelokan dapat memikat pandangan, tetapi ketulusanlah yang menetap dalam ingatan.
Kasihilah seseorang dengan adab, rinduilah ia dengan doa, dan nantikanlah ia dengan sabar. Jika ia ditakdirkan menjadi teman seperjalanan, sambutlah dengan syukur. Jika ia hanya singgah sebagai pelajaran, lepaskanlah dengan lapang dada.
Avisapranatungga

