Suarastra.com – Sebermula tersebut sebuah hikayat, di bumi Kutai negeri beradat, Erau bermula membawa rahmat, pusaka leluhur dijunjung hormat. Di tepian Mahakam airnya mengalir, membawa cerita zaman berzaman terukir, gendang bertalu bunyinya mengalir, menyambut Belimbur dengan hati yang jernih.
Hatta sampailah waktu yang dinanti,
tatkala adat dilaksanakan sepenuh hati,
air dipercik membasuh diri,
sejuknya meresap ke dalam sanubari.
Bukan sekadar air yang membasahi,
bukan sekadar riang bermain air sehari,
di dalam Belimbur tersimpan arti,
membersihkan lahir, menjernihkan hati.
Air disiram dari tangan ke tangan,
membawa damai ke seluruh halaman,
rakyat berkumpul dalam persaudaraan,
tiada berjarak, tiada perbedaan.
Yang tua menadah penuh kesabaran,
yang muda tersenyum dalam kegembiraan,
bersama merawat adat warisan,
agar tak hilang ditelan zaman.
Mahakam menjadi saksi yang setia,
menyimpan hikayat sepanjang masa,
bahwa adat bukan sekadar upacara,
melainkan amanah dari leluhur kita.
Maka Belimbur jangan dipandang semata,
sebagai permainan yang membawa suka,
di balik percik yang jatuh ke muka,
tersimpan nasihat untuk manusia.
Air mengajarkan hati merendah,
seperti sungai mengalir tanpa membantah,
membersihkan diri dari segala lelah,
agar langkah kembali menuju arah.
Wahai anak cucu bumi Kutai,
janganlah warisan leluhur diceraikan dari diri,
jaga adat dengan sepenuh hati,
agar pusaka budaya tetap bersemi.
Jika air mampu menjernihkan telaga,
hendaklah hati pun jernih adanya,
jika Belimbur membawa bahagia,
hendaklah sesama hidup dalam mulia.
Demikian hikayat Belimbur bertutur,
dari tepian Mahakam yang masyhur,
adat dijaga,
pusaka disyukur,
agar Kutai tetap berakar dan subur.
Maka tamatlah syair pada hari ini,
bukan tamat kisah adat di negeri,
selama anak cucu menjaga janji,
Belimbur tetap hidup di dalam sanubari.
Penulis : Avisapranatungga

