Suarastra.com – Sebermula tersebutlah hikayat, di bumi Kutai negeri berdaulat, Mahakam mengalir membawa amanat, warisan bahari tiada berkarat. Hatta datang bulan penuh cahaya, berhimpun rakyat dengan sukacita, Erau bermula membuka cerita, adat pusaka dijunjung bersama.
Berkumandang gendang di balairung seri,
bersahut bunyi sepanjang negeri,
tarian berlenggang penuh berseri,
membangunkan kenangan zaman bahari.
Payung kebesaran berkembang perlahan,
pusaka dijunjung penuh kehormatan,
setiap gerak mengandung perlambangan,
setiap adat menyimpan pengajaran.
Wahai anak cucu pewaris negeri,
dengarkan petuah orang bahari,
Erau bukan semata bersuka diri,
tetapi amanah yang mesti lestari.
Dalam beseprah duduklah bersama,
tiada bertanya tinggi dan rendahnya,
hidangan terbentang penuh karunia,
eratlah silaturahmi sesama manusia.
Maka belimbur pun datang waktunya,
air dicurahkan dengan sukacitanya,
bukan sekadar basah tubuh badan,
melainkan lambang bersihnya hati dan pikiran.
Bepelas pula membawa amanah,
meneguhkan niat agar tak berubah,
adat dipelihara janganlah punah,
supaya pusaka tetap bercahaya.
Adapun Erau yang datang bertandang,
bukan sekadar riuh orang berkunjung,
di balik gendang yang terus berdentang,
ada nasihat untuk anak cucu mendatang.
Janganlah lupa asal dan mula,
jangan terbuai kilau dunia,
pohon yang tinggi teguh berdiri,
karena akarnya dalam di bumi.
Mahakam mengalir tiada berhenti,
membawa kisah dari hari ke hari,
demikian adat menjaga negeri,
berubah zaman,
tiada kehilangan diri.
Jika kelak zaman bertukar rupa,
dan dunia makin jauh berlari,
jangan pusaka tinggal cerita,
jangan adat hilang dari hati.
Sebab negeri bukan hanya tanah,
bukan sekadar istana dan rumah,
negeri hidup dalam adat yang indah,
dalam budi, dalam amanah.
Maka tersebutlah pesan bahari,
daripada leluhur kepada pewaris negeri,
“Peliharalah adat dengan setia, hormatilah pusaka dengan mulia. Boleh berubah zaman dan masa, asal jangan hilang akar bangsa.”
Maka tamatlah syair Erau,
di tepian Mahakam airnya berkilau,
selama adat dijunjung selalu,
selama itu Kutai tidaklah layu.
Adapun pusaka bukan sekadar benda,
ia nyawa yang hidup di dalam dada,
selama anak cucu mengenangnya,
selama itu leluhur hadir menjaga.
Wallahu a’lam, demikian hikayat, Erau Kutai penuh amanat, warisan lama janganlah tersesat, agar sampai kepada zaman yang hebat.
Penulis : Avisapranatungga

