Suarastra.com – Di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Tenggarong, berdiri sebuah gunung kecil bernama Gunung Bala. Meski tidak menjulang tinggi, gunung ini memiliki aura yang menakutkan dan penuh misteri. Konon, Gunung Bala bukan sekadar tumpukan tanah dan batu, tetapi tempat bersemayamnya roh gaib yang disebut Penunggu Gunung Bala. Sosok gaib ini tidak pernah menampakkan diri kepada manusia, tetapi penduduk percaya bahwa kekuatannya melampaui batas nalar. Roh tersebut diyakini sudah ada sejak sebelum manusia pertama menginjakkan kaki di bumi Tenggarong.
Gunung Bala menjadi pusat harmoni bagi alam dan manusia. Setiap makhluk yang tinggal di sekitarnya hidup berdampingan dengan alam dalam aturan yang tidak tertulis,
Jangan mengambil lebih dari yang diperlukan
Mereka yang melanggar, apalagi dengan niat merusak, akan terkena kutukan gaib. Beberapa orang pernah kehilangan akal atau terserang penyakit misterius setelah melanggar pantangan. Tak ada yang meragukan kekuatan Penunggu Gunung Bala, sebab ia selalu mengawasi dari bayang-bayang hutan dan lembah yang sunyi.
Wujud dan Tanda Kehadiran Penunggu
Penunggu Gunung Bala memiliki kemampuan berubah wujud menjadi berbagai makhluk. Dalam beberapa cerita, ia pernah terlihat sebagai gagak hitam yang melintas cepat di antara pepohonan. Di lain waktu, ia muncul sebagai anjing hitam yang berlari mengelilingi puncak gunung. Namun, ada pula saksi mata yang mengaku melihat sosok yang menyerupai kuda bertubuh manusia. Saat malam tiba, dalam bentuk paling menakutkannya, ia muncul sebagai seorang lelaki tua berambut panjang dan tubuh kekar, dengan tatapan mata tajam yang bersinar dalam kegelapan.
Namun, tanda kehadirannya tidak selalu berupa penampakan. Terkadang, penduduk bisa merasakan kehadirannya dari alam sekitar. Saat hutan tiba-tiba sunyi dan angin berhembus tanpa sebab, itulah saat Penunggu sedang berpatroli. Karena itulah, warga Tenggarong selalu berdoa sebelum memulai kegiatan dan menghindari keluar rumah saat senja, karena waktu itu dipercaya sebagai saat Penunggu berkelana.
Setia dan Petualangan Terlarang
Pada suatu malam, sekelompok anak muda memutuskan untuk menantang larangan masyarakat. Mereka adalah Setia dan tujuh temannya tiga laki-laki dan empat perempuan yang penasaran dengan cerita mistis tentang Gunung Bala. Rasa ingin tahu mereka mengalahkan rasa takut, dan mereka memutuskan untuk mendaki gunung itu pada malam hari. Mereka hanya membawa senter sebagai penerangan, berharap menemukan sesuatu yang bisa membuktikan kebenaran mitos tersebut.
Setelah beberapa jam berjalan, mereka tiba di tengah hutan lebat. Saat itulah, suara aneh mulai terdengar bunyi gamelan yang menggema di udara, seolah berasal dari jauh namun terasa sangat dekat. Lalu, suara mirip dengan nyanyian dan tabuhan upacara Belian ritual adat Dayak terdengar di telinga mereka. Semua terdiam, saling berpandangan dengan ketakutan yang mulai merayap di hati mereka.
Mereka melanjutkan perjalanan dan menemukan sebuah gubuk tua di tengah hutan. Rasa penasaran mendorong mereka untuk masuk ke dalam gubuk itu. Begitu mereka melangkah masuk, hal-hal aneh mulai terjadi. Salah satu teman laki-laki mereka tiba-tiba jatuh ke tanah, tubuhnya gemetar hebat, dan dalam sekejap mata, ia mengalami kerasukan. Suaranya berubah menjadi garau, berbicara dalam bahasa yang tidak mereka mengerti. Tak lama, dua temannya yang lain seorang laki-laki dan seorang perempuan juga mengalami hal serupa.
Yang kerasukan itu mulai bertindak aneh. Salah satu dari mereka berlari keluar dari gubuk dan menghantamkan tubuhnya ke pohon-pohon di sekitarnya. Temannya yang lain menabrakkan diri ke dinding gubuk, seolah-olah hendak merobohkannya. Teman perempuan mereka yang kerasukan berdiri kaku di samping pohon besar, matanya kosong dan tak berkedip, sementara mulutnya komat-kamit melafalkan kata-kata tak jelas.
Keadaan semakin mencekam, dan rasa takut menyelimuti seluruh kelompok. Salah satu teman laki-laki yang masih sadar berteriak,
“Kita harus segera pergi dari sini! Kalau tidak, kalian akan menyesal!”
Peringatan dan Rahasia Tersembunyi
Namun, sebelum mereka sempat melarikan diri, salah satu pemuda yang kerasukan berbisik kepada teman perempuannya,
“Bawa temanmu yang sedang mengandung pergi dari sini. Jangan biarkan dia kembali lagi ke tempat ini, karena dialah pemanggil makhluk-makhluk itu.”
Temannya tertegun. Ia tidak tahu bahwa salah satu temannya sedang mengandung, apalagi dalam usia kandungan yang masih muda. Ia menoleh ke arah temannya, yang tampak ketakutan namun tidak mengerti apa-apa. Sadar bahwa keadaan semakin berbahaya, mereka segera berusaha menyadarkan teman-teman yang kerasukan dengan doa dan usaha keras. Perlahan-lahan, teman-teman mereka kembali sadar.
Begitu mereka berhasil mengumpulkan seluruh kekuatan, mereka berlari meninggalkan gubuk itu secepat mungkin. Namun, perjalanan pulang tidak semudah yang mereka bayangkan. Mereka terus berlari di bawah sinar rembulan yang seolah-olah menuntun mereka. Namun, saat salah satu dari mereka berhenti sejenak, ia menyadari sesuatu yang mengerikan, jalan yang mereka lewati bukanlah jalan pulang.
Jalan yang Tak Terduga
Mereka terjebak di dalam labirin alam yang seolah-olah menyesatkan mereka. Dalam kepanikan, mereka berhenti dan mulai berdoa dengan khusyuk, memohon ampun dan perlindungan dari Penunggu Gunung Bala. Perlahan-lahan, suasana di sekitar mereka berubah. Hutan yang tadinya gelap mulai terang, dan suara alam kembali terdengar pertanda bahwa mereka telah didengar.
Dengan hati-hati, mereka mencari jalan keluar sambil terus berdoa. Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya mereka menemukan jalan setapak yang mereka kenali sebagai jalan menuju desa. Perasaan lega menyelimuti mereka saat mereka tiba di perbatasan kampung. Mereka pun selamat, namun pengalaman di Gunung Bala meninggalkan bekas yang tak akan pernah mereka lupakan.
Pelajaran dari Gunung Bala
Setelah kejadian itu, Setia dan teman-temannya sepakat untuk tidak pernah kembali ke Gunung Bala. Mereka menyadari bahwa rasa penasaran mereka hampir membawa malapetaka. Teman perempuan mereka yang sedang hamil akhirnya mengakui bahwa ia baru mengetahui tentang kandungannya beberapa hari sebelumnya. Mungkin itulah sebabnya makhluk gaib tertarik untuk mendekati mereka kehadiran seorang pemanggil tanpa disadari telah memancing energi gaib.
Cerita tentang Setia dan teman-temannya menyebar cepat di seluruh desa. Mereka yang mendengarnya semakin yakin bahwa Penunggu Gunung Bala tidak boleh dianggap remeh. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani melanggar aturan di sekitar gunung tersebut. Penduduk belajar untuk lebih menghormati alam dan makhluk gaib yang menjaganya.
Harmoni yang Dijaga
Gunung Bala tetap berdiri kokoh, menyimpan misteri dan kekuatan di dalamnya. Penduduk Tenggarong terus hidup selaras dengan alam, menghormati batas-batas tak kasat mata yang menjaga keseimbangan. Mereka tahu bahwa di balik setiap hembusan angin, setiap kesunyian hutan, dan setiap langkah mereka, ada sosok yang selalu mengawasi Penunggu Gunung Bala, sang penjaga harmoni yang abadi.
Cerita ini menjadi pengingat bahwa alam bukan hanya tempat tinggal manusia, melainkan rumah bagi makhluk-makhluk tak terlihat yang harus dihormati. Begitulah kisah Gunung Bala yang akan terus diceritakan dari generasi ke generasi, menjaga kebijaksanaan dan kepercayaan masyarakat Tenggarong hingga akhir zaman.
Penulis: Avisapranatungga

