Suarastra.com – Pada zaman dahulu, ketika Tenggarong belum seramai kini tatkala atap seng pasar lama masih berkarat, dan jalanannya becek saat hujan, berdebu saat kemarau hidup seorang lelaki sederhana bernama Gandek.
Ia bukan pedagang. Bukan pula petugas pasar. Bukan pengemis. Tapi pasar lama tak lengkap tanpa dirinya. Bagaikan denyut nadi pagi yang tak bersuara, Gandek adalah sosok yang tak terlihat penting, tapi sangat dirindukan saat tiada.
Tubuhnya kecil, kurus seperti ilalang tua yang setia berdiri meski diterpa angin. Rambutnya putih seluruhnya, kontras dengan wajahnya yang belum keriput. Matanya tajam namun teduh. Dan suaranya, meski pelan, mampu menenangkan anak-anak yang menangis hanya dengan sebaris kalimat.
Setiap pagi, ia datang membawa bakul tua berisi entah apa. Kadang pisang hutan, kadang nasi berbalut daun rumbia, kadang hanya sebotol air dalam kaca bening. Ia berjalan menyusuri pasar bukan untuk menjual, melainkan untuk membantu.
Ia membantu ibu-ibu memanggul hasil bumi, membentangkan tikar untuk pedagang sayur, mengelap sisa kuah dari panci tukang bubur, bahkan menenangkan anak hilang hanya dengan menyebut namanya:
“Gandek!”
Dan entah dari mana, ia akan muncul.
*Asal-usul yang Tak Pernah Terjawab*
Tiada yang tahu asal-usul Gandek. Ada yang berkata, ia mantan guru yang jatuh miskin. Ada pula yang menyebutnya pertapa dari hulu Mahakam, turun untuk membaur dengan rakyat.
Tapi Gandek sendiri hanya berkata lirih,
“Selama aku bisa berguna di pasar ini, aku merasa hidupku tak sia-sia.”
Ia tinggal di pondok kecil di tepi sungai, dekat pohon ketapang tua yang rindangnya menyentuh air. Rumahnya reyot tapi bersih. Tiap pagi, sebelum ayam berkokok, asap mengepul dari cerobongnya. Konon, separuh nasi yang ia masak untuk dirinya, separuh lagi dibagi kepada yang butuh.
*Perginya yang Tak Disangka*
Tahun berganti. Gandek mulai lamban. Langkahnya lebih berat, suara batuk kecil sesekali terdengar. Namun ia tetap datang, menantang hujan, kabut, atau terik tanpa keluh.
Hingga suatu pagi, pasar terasa aneh. Sunyi. Seperti kehilangan nadinya. Anak kecil menangis memanggil Gandek. Para pedagang saling bertanya. Seorang pemuda pun menuju pondok tua itu.
Pintu tak terkunci. Di dalam, Gandek ditemukan duduk bersila. Matanya terpejam. Senyum tipis masih tergambar. Ia telah tiada pergi dengan damai. Tak ada tangis keluarga. Tak ada sanak. Tapi seluruh pasar berhenti berdagang hari itu. Anak-anak membuat anyaman daun kelapa untuk pusaranya. Jenazah Gandek diselimuti kain putih bersih, diusung ke bukit sunyi di ujung kota yang saat itu belum bernama.
Sejak hari itu, masyarakat berkata,
“Biarlah ia mengawasi kami dari atas sana, sebagaimana selama ini ia menjaga kami di bawah sini.”
Dan bukit itu diberi nama: Gunung Gandek.
*Gunung yang Menyimpan Roh Penjaga*
Seiring waktu, wilayah itu berkembang. Rumah-rumah dibangun. Jalan diperkeras. Pasar lama digantikan oleh bangunan baru. Tapi Gunung Gandek tetap dikenal.
Anak-anak bertanya, “Siapa Gandek itu?”
Dan orang tua menjawab,
“Ia bukan orang kaya, bukan pahlawan, tapi membuat semua merasa aman.”
Namun sejak Gandek dimakamkan di bukit itu, hal-hal aneh mulai terjadi. Mereka yang tinggal di sekitar Gunung Gandek mendengar bisikan lembut di malam hari. Kadang terdengar seperti nyanyian, kadang seperti doa, namun selalu membawa ketenangan. Aroma kayu manis samar menyusup lewat jendela-jendela tua. Anak-anak berkata pernah melihat kakek berjanggut putih duduk di bawah pohon manggis, tersenyum, menepuk lutut, lalu menghilang.
*Kebaikan yang Tak Pernah Pergi*
Pernah, seorang gadis kecil tersesat saat pulang dari mengaji. Ia ditemukan duduk di tepi sungai, dijaga oleh seorang kakek yang memberinya air dari tempurung kelapa. Tapi saat dicari kembali, pohon yang disebut si anak tak ditemukan. Tak ada rasa takut yang ada hanyalah damai.
Pedagang yang curang, dagangannya rusak esok hari. Tapi pedagang jujur, dagangannya laris manis. Seorang wanita tua yang gemar memaki, bermimpi bertemu Gandek, yang berpesan,
“Jika lidahmu bisa menyakiti, maka diam lebih mulia.”
*Roh Sunyi yang Menjaga Pasar Lama*
Kini, pasar lama sudah berubah rupa. Tapi kisah tentang Si Gandek tak pernah benar-benar hilang. Ia hadir dalam cerita, dalam mimpi, dalam desir angin pagi. Konon, jika kau berjalan melewati bekas pasar lama Tenggarong di subuh hari saat kabut masih menari di atas tanah dan tiba-tiba kau mendengar suara lirih berkata,
“Kebaikan tak perlu dilihat, cukup dirasakan.”
Dan jika kau merasa bahumu disentuh lembut, seolah damai turun tanpa alasan, percaya sajalah, itu bukan angin biasa. Mungkin itu salam dari Si Gandek, roh penjaga pasar lama, yang tak pernah benar-benar pergi.
*Gunung yang Pernah Bernama*
Gunung Gandek yang disebut dalam kisah ini, memang benar adanya, terletak di daerah Kampung Melayu. Di awal tahun 2000-an, makam Gandek masih dapat terlihat, sebelum perlahan menghilang ditelan perubahan zaman.
Pada masa Sultan Aji Muhammad Parikesit, kawasan Gunung Gandek dikenal oleh penduduk Kampung Melayu, membentang dari Jalan Betutu hingga ke Gunung dan Kelambu Kuning.
Kini, meski jasadnya telah lama tiada, namanya tetap hidup. Sebab kebaikan tak pernah benar-benar mati ia hanya bersembunyi dalam ingatan orang-orang yang bersyukur pernah mengenalnya.
Penutur : Kaik Rahman
Penulis : Avisa Prana Tungga

