Suarastra.com – Konon, orang-orang tua dahulu memiliki kepercayaan tersendiri tentang anggrek hitam. Jika seseorang berjalan jauh ke dalam hutan, lalu tiba-tiba menemukan bunga itu tumbuh di antara pepohonan liar, janganlah lekas merasa takjub. Sebab, menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, boleh jadi ia sedang berada tidak jauh dari sebuah kampung gaib. Kampung yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.
Dan kampung itu memiliki kehidupan sebagaimana perkampungan manusia. Ada rumah-rumah, halaman yang bersih, pepohonan yang rindang, bahkan suara kehidupan yang sesekali terdengar dari balik rimbunnya hutan. Namun, keberadaannya tersembunyi di balik tabir yang tidak setiap orang mampu melihatnya.
Anggrek hitam dipercaya sebagai salah satu pertandanya. Seolah bunga itu menjadi penanda batas antara alam yang dikenal manusia dan alam yang menyimpan kehidupan lain.
Orang-orang tua berpesan, apabila menemukan anggrek hitam secara tiba-tiba di tengah perjalanan, jangan sembarangan memetiknya. Jangan pula berkata kasar, bersiul, atau bertingkah congkak. Jagalah tutur kata dan teruskan perjalanan dengan hati yang tenang.
Entah benar atau tidak cerita itu, tetapi begitulah cara orang dahulu mengajarkan manusia untuk menghormati hutan.
Sebab, bagi mereka, hutan bukanlah tempat kosong yang hanya dihuni pepohonan dan binatang. Setiap akar memiliki kisah, setiap pohon menyimpan usia, dan setiap sudut rimba dipercaya mempunyai penghuninya sendiri.
Barangkali, kampung gaib itu hanyalah bagian dari cerita yang tumbuh bersama kebudayaan masyarakat pedalaman. Namun, di balik kisahnya tersimpan sebuah petuah, manusia tidak pernah benar-benar menjadi penguasa atas seluruh alam.
Ada wilayah yang belum dikenalnya, ada rahasia yang belum dipahaminya, dan ada kehidupan yang sebaiknya tidak diganggu.
Maka, anggrek hitam tetaplah mekar di kedalaman rimba. Menjadi bunga yang elok dipandang, sekaligus menyimpan cerita tentang sebuah kampung yang konon hanya dapat ditemukan oleh mereka yang dipercaya mampu melihatnya.
Nasihat luhur,
“Jika bertemu bunga hitam di tengah rimba, jangan merasa hutan itu telah menjadi milikmu. Barangkali engkau sedang bertamu di halaman milik penghuni yang tidak terlihat oleh matamu.”
Penulis : Avisapranatungga

