Suarastra.com – Konon, pada zaman ketika sungai masih menyimpan banyak rahasia dan hutan menjadi tempat bersemayamnya kisah-kisah leluhur, hiduplah seorang pemuda di tepian sungai. Sejak kecil, ia sering mengalami mimpi yang ganjil. Dalam tidurnya, ia melihat seekor buaya besar berenang di antara akar-akar pohon, memandangnya dengan mata yang seolah mengenali sesuatu.
Anehnya, setiap kali pemuda itu terluka, seekor buaya di sungai yang sama dikabarkan mengalami luka serupa.
Orang-orang kampung mulai berbisik.
Ada yang mengatakan buaya itu penjaga sungai. Ada pula yang percaya bahwa setiap manusia memiliki saudara gaib yang hidup di alam berbeda.
Namun, seorang tetua kampung berkata kepadanya,
“Anakku, tidak semua saudara dilahirkan dari rahim yang sama. Ada yang dipertemukan oleh darah, ada pula yang diikat oleh rahasia kehidupan.”
Suatu malam, ketika bulan menggantung pucat di atas permukaan air, pemuda itu duduk seorang diri di tepian sungai.
Tiba-tiba, air beriak. Seekor buaya besar muncul, lalu berhenti tepat di hadapannya. Tidak ada rasa takut di hati pemuda itu. Justru ada perasaan rindu yang sulit diterangkan. Buaya itu menatapnya lama, kemudian perlahan menundukkan kepala.
Dalam keheningan malam, pemuda itu seakan mendengar suara dari dalam batinnya:
“Aku bukan musuhmu. Aku adalah bagian dari kisahmu yang tidak pernah kau kenali.”
Sejak malam itu, ia memahami bahwa sungai bukan sekadar tempat air mengalir. Ia adalah saksi bagi rahasia yang diwariskan dari masa ke masa.
Tetapi tetua kampung kembali berpesan,
“Jangan engkau merasa paling berkuasa atas saudaramu, meski rupanya berbeda. Sebab kehidupan memiliki banyak jalan untuk menguji kesetiaan. Dan jangan pula engkau mengusik apa yang tidak engkau pahami.”
Dan sejak peristiwa itu, pemuda tersebut tidak pernah lagi memandang buaya sebagai binatang semata. Baginya, ada rahasia kehidupan yang harus dihormati, meski tidak semuanya harus dibuktikan.
Adapun petuahnya,
“Manusia berjalan di atas tanah, buaya berenang di dalam air. Berbeda rupa, berbeda alam, tetapi siapa yang mengetahui rahasia ikatan di antara keduanya? Jangan lekas mencela sesuatu yang belum engkau pahami, sebab tidak semua rahasia kehidupan ditakdirkan untuk dibuka oleh akal manusia.”
Catatan : Kisah ini merupakan cerita rekaan yang terinspirasi dari kepercayaan dan folklor tentang buaya kembar manusia di masyarakat tepian sungai Kalimantan, bukan catatan sejarah atau klaim kejadian nyata.
Penulis : Avisapranatungga

