Suarastra.com – Di tengah menjamurnya kedai kopi dengan konsep yang beragam, Toko Kopi Tana memilih jalan yang berbeda. Berada di Jalan Diponegoro, Gang Koni, Kecamatan Tenggarong, kedai ini tidak menawarkan kemewahan atau konsep yang rumit. Sebaliknya, ia hadir sebagai ruang sederhana bagi siapa saja yang ingin menikmati secangkir kopi tanpa merasa harus menjadi siapa pun.
Siang beranjak sore menjadi waktu ketika tempat ini mulai hidup. Pengunjung datang silih berganti, mengisi kursi-kursi yang tersedia, berbincang dengan teman, menyelesaikan pekerjaan, atau sekadar menikmati waktu senggang ditemani minuman favorit mereka.
Di balik kedai tersebut, ada sosok Azan, pemilik Toko Kopi Tana yang memulai usahanya pada 16 Desember 2025. Menariknya, tempat yang kini ramai dikunjungi itu sejatinya bukan lokasi yang sejak awal direncanakan menjadi rumah permanen bagi usahanya.
“Awalnya sementara saja, Mas. Tapi ternyata makin ke sini makin jalan, jadi akhirnya tetap di sini,” ujar Azan kepada Suarastra.com.
Ia bercerita, lokasi permanen sebenarnya telah direncanakan berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani, di samping rumah sakit baru. Berbagai persiapan bahkan telah dilakukan, mulai dari gambar bangunan hingga konsep pengembangan tempat. Namun karena usaha yang dijalankan di Gang Koni terus menunjukkan perkembangan positif, rencana tersebut untuk sementara ditunda.
“Kalau nanti ada rezeki, baru pindah ke lokasi yang direncanakan,” katanya.
Sejak awal, Azan memiliki gambaran sederhana tentang kedai kopi yang ingin ia bangun. Ia tidak ingin menciptakan ruang yang membuat orang merasa harus tampil tertentu atau mengikuti tren yang sedang berkembang.
“Sebenarnya dari awal saya ingin konsep yang homie, nyaman seperti rumah sendiri. Tempat untuk orang minum kopi setiap hari, memenuhi kebutuhan kafein harian,” ujarnya.
Baginya, kopi adalah bagian dari keseharian banyak orang. Karena itu, ia ingin menghadirkan tempat yang terasa akrab dan mudah diterima siapa saja.
“Saya ingin konsepnya sesederhana mungkin. Jadi orang datang ke sini tidak perlu memikirkan outfit atau harus tampil tertentu. Semua bisa datang dan menikmati kopi dengan santai,” lanjutnya.
Pemikiran tersebut juga tercermin dari nama yang dipilih untuk kedainya. Menurut Azan, nama Tana lahir dari keinginannya membangun ruang yang membumi dan dekat dengan siapa saja.
“Saya ingin tempat ini membumi. Dari yang saya baca, kata ‘tanah’ berasal dari bahasa Dayak yang berarti tanah. Saya kemudian memilih penulisan ‘Tana’ sebagai identitas kedai ini,” tuturnya.
Makna itu kemudian menjadi fondasi dalam membangun suasana dan identitas kedai. Ia ingin orang datang untuk menikmati kopi, memenuhi kebutuhan kafein harian, dan merasa nyaman tanpa beban.
“Intinya membumi dan dekat dengan siapa saja,” katanya.
Meski mengusung konsep yang sederhana, Toko Kopi Tana tetap memberi perhatian besar pada kualitas kopi yang disajikan. Salah satu menu yang paling banyak diminati pengunjung adalah Es Kopi Susu Singga yang hingga kini menjadi minuman terlaris.
Selain itu, tersedia pula berbagai pilihan kopi berbasis specialty coffee seperti Peach Americano dan Siberi Americano. Untuk kategori white coffee maupun black coffee, Azan menggunakan biji kopi specialty yang dipilih secara khusus.
“Khusus minuman seperti Americano dan white maupun black coffee, saya menggunakan biji kopi specialty,” ujarnya.
Di antara berbagai pilihan tersebut, Americano menjadi salah satu menu specialty yang paling banyak dipesan pelanggan.
Tidak hanya minuman, sejumlah menu makanan juga memiliki penggemarnya sendiri. Dari berbagai pilihan yang tersedia, Lempeng Pisang menjadi sajian yang paling sering dipesan pengunjung.
“Yang paling laris itu Lempeng Pisang,” kata Azan.
Selain itu, tersedia pula Lumpia Siram dan Meriam Kari yang turut melengkapi pilihan camilan bagi pelanggan yang datang.
Perjalanan Toko Kopi Tana berkembang secara perlahan namun pasti. Pada masa awal pembukaan, sebagian besar pengunjung merupakan teman-teman dekat dan relasi pribadi. Namun seiring waktu, semakin banyak orang mengenal kedai tersebut melalui unggahan media sosial dan rekomendasi dari mulut ke mulut.
“Awalnya yang datang teman-teman saja. Namun lama-kelamaan ada yang membuat konten dan membagikannya, sehingga semakin ramai,” ujarnya.
Yang membuatnya semakin optimistis adalah banyak pelanggan yang kembali datang setelah kunjungan pertama mereka.
“Banyak juga yang datang lagi keesokan harinya, jadi mereka kembali lagi. Antusiasmenya cukup baik,” katanya.
Saat ini, jumlah pengunjung yang datang setiap hari berkisar seratus orang. Angka tersebut hampir sebanding dengan jumlah minuman yang terjual setiap harinya.
“Kalau dihitung dari jumlah cup yang terjual, biasanya bisa mencapai sekitar 100 cup dalam sehari,” ujarnya.
Di balik perkembangan itu, Azan mengakui ada tantangan yang terus dihadapi, terutama terkait pasokan bahan baku. Untuk kebutuhan kopi, ia mengambil green bean dari Jawa, termasuk kopi Tanah Singga yang berasal dari Malang dan dipanggang oleh rekannya di sana.
Sementara untuk susu, ia mengandalkan pasokan dari distributor. Namun keterbatasan stok kerap menjadi persoalan bagi pelaku usaha berskala kecil.
“Akibatnya terkadang saya hanya mendapat dua atau tiga karton. Jadi tantangan terbesar memang pasokan bahan baku,” katanya.
Menariknya, dunia kopi bukanlah bidang yang sejak awal digeluti Azan. Ia merupakan lulusan Hubungan Internasional dan menghabiskan sekitar 14 tahun tinggal di Malang. Di kota itulah ketertarikannya terhadap kopi tumbuh hingga akhirnya belajar secara otodidak sebagai home barista.
“Jadi kalau dibilang punya latar belakang profesional di bidang kopi, sebenarnya tidak ada,” ujarnya.
Sebelum membuka Toko Kopi Tana, ia telah mencoba berbagai jenis usaha. Mulai dari kafe di Malang, usaha pakaian, hingga Nasi Goreng Jawara yang menjadi usaha terakhirnya sebelum kembali ke Tenggarong.
Keputusan pulang kampung diambil setelah orang tuanya mengalami kendala. Kondisi tersebut membuatnya memilih menetap di Tenggarong dan membangun usaha sementara sambil menunggu rencana lokasi baru.
Namun dari tempat yang awalnya hanya dianggap persinggahan sementara itu, tumbuh sebuah ruang yang kini menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Di Gang Koni, Toko Kopi Tana perlahan menemukan tempatnya sendiri, menghadirkan secangkir kopi dan suasana yang sederhana, hangat, serta membumi bagi siapa saja yang datang.
(Azm)

