Suarastra.com – Dalam rangka memperingati Hari Seni Sedunia, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono yang kerap disapa Ibas menghadiri audiensi bertajuk “Seni Budaya Kreatif sebagai Identitas Bangsa yakni Menjaga dan Menghidupkan Warisan Budaya Indonesia” di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog kebangsaan yang mempertemukan berbagai pelaku seni dan budaya guna memperkuat peran seni budaya kreatif dalam pembangunan nasional. Dalam sambutannya, Ibas menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa dan harus terus dijaga sekaligus dikembangkan agar mampu bersaing di kancah global.
“Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam seni dan budaya, dari berbagai tarian, musik, hingga seni rupa dan pertunjukan. Kekayaan ini harus kuat di dalam negeri dan bisa kita angkat ke dunia internasional,” ujarnya.
Lulusan S2 Nanyang Technological University dan S3 IPB University ini menekankan bahwa penguatan industri seni budaya kreatif tidak hanya penting sebagai identitas bangsa, tetapi juga sebagai peluang ekonomi nasional yang mampu mengisi sektor industri hiburan, baik di dalam negeri maupun global.
Peran Generasi Muda dan Inovasi Digital
Sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Ibas mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengagumi budaya luar, tetapi juga mencintai serta mengembangkan budaya Indonesia.
“Kita tidak hanya ingin melestarikan, tetapi juga meningkatkan dan mempercepat manfaat budaya kita,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya pendekatan inovatif dalam pelestarian budaya, termasuk memanfaatkan teknologi digital seperti kecerdasan buatan, NFT, dan galeri digital. Menurutnya, teknologi dapat menjadi peluang besar sekaligus tantangan jika tidak dikelola dengan bijak.
“Kolaborasi antara tradisi budaya, baik klasik maupun pop modern, dengan inovasi teknologi menjadi kunci agar seni budaya tetap relevan di pasar global,” tambahnya.
Tantangan Pelaku Seni dan Perlindungan Hak
Ibas juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi pelaku seni, mulai dari keterbatasan akses pasar hingga rendahnya apresiasi ekonomi terhadap karya seni. Menurutnya, pekerja seni harus mendapatkan perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual serta dukungan kebijakan yang berpihak.
“Pekerja seni harus bisa berkarya tanpa kekhawatiran, dengan perlindungan hak yang jelas dan dukungan nyata dari negara,” katanya.
Ia turut mendorong langkah strategis seperti promosi lintas negara, penguatan peran BUMN dalam sektor pariwisata dan budaya, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia seperti kurator dan pemandu wisata.
Transformasi Museum di Era Digital
Secara khusus, Ibas menyoroti pentingnya transformasi museum agar tetap relevan di era digital. Ia menyarankan optimalisasi digitalisasi koleksi, pengembangan fitur interaktif berbasis teknologi seperti AI dan video mapping, serta integrasi platform digital museum di seluruh Indonesia.
“Museum harus menjadi tempat yang hidup, bukan sekadar ruang statis. Teknologi memungkinkan pengalaman yang lebih menarik dan edukatif,” ujarnya.
Seni sebagai Penguat Persatuan
Lebih jauh, Ibas menegaskan bahwa seni merupakan instrumen penting dalam memperkuat persatuan bangsa.
“Seni adalah bahasa universal yang mampu menembus batas dan menjadi penghubung antarbangsa, sekaligus mencerminkan nilai toleransi, inklusivitas, dan keadilan sosial,” tuturnya.
Aspirasi Pelaku Seni
Dalam forum tersebut, sejumlah pelaku seni turut menyampaikan aspirasi. Keterbatasan infrastruktur galeri, kebutuhan dukungan berkelanjutan bagi seni teater, hingga pentingnya jaminan kesejahteraan seperti asuransi bagi pekerja seni menjadi sorotan.
Selain itu, isu akses pendanaan, profesionalitas manajemen seni, serta perlunya pembaruan regulasi ketenagakerjaan juga mengemuka sebagai tantangan nyata di lapangan.
Sinergi Lintas Sektor
Berbagai pandangan tersebut menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, legislatif, dan komunitas seni dalam membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan. Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan museum, Ibas menyerahkan bantuan simbolis kepada Kepala Museum Nasional, Indira Estiyanti Nurjadin. Ia juga mengajak peserta untuk meninjau langsung koleksi museum, termasuk mencoba fitur interaktif berbasis AI “Paras Nusantara”, serta melihat koleksi ikonik seperti Arca Bhairawa dan fosil Homo erectus yang baru kembali ke Indonesia setelah lebih dari satu abad.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat yang memberikan dukungan terhadap sektor kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan karakter bangsa. Melalui kolaborasi lintas sektor, penguatan seni budaya kreatif diharapkan mampu mendorong Indonesia menjadi pusat kebudayaan kreatif di kawasan Asia Tenggara hingga tingkat global.
(Caa)

