Suarastra.com – Dulu, setelah matahari mulai miring dan bayangan pohon memanjang di halaman, ada satu kebiasaan sederhana yang hampir dimiliki banyak rumah: duduk di teras setelah asar.
Tidak ada undangan resmi. Tidak ada jadwal. Tidak ada pemberitahuan yang muncul di layar ponsel. Semuanya terjadi begitu saja. Kursi plastik dikeluarkan, tikar dibentangkan, segelas teh atau kopi menemani, sementara anak-anak berlarian mengejar bola di jalan kampung.
Di teras rumah, waktu berjalan sedikit lebih lambat.
Orang-orang yang melintas akan berhenti sebentar. Ada yang bertanya kabar. Ada yang mengeluh soal harga sembako. Ada yang sekadar tersenyum lalu melanjutkan langkah. Percakapan kecil tumbuh dari hal-hal sederhana, tetapi diam-diam membangun sesuatu yang lebih besar: rasa mengenal satu sama lain.
Teras rumah pada masa itu bukan sekadar bagian bangunan. Ia adalah ruang sosial yang hidup. Tempat batas antara rumah dan dunia luar terasa tipis, tempat seseorang masih bisa menjadi bagian dari lingkungan tanpa perlu pergi terlalu jauh.
Dilansir dari penelitian berjudul “Neighbors, Households, and Front Porches: New Urbanist Community Tool or Mere Nostalgia?” karya Barbara B. Brown, John R. Burton, dan Anne L. Sweaney yang dipublikasikan dalam jurnal Environment and Behavior tahun 1998, teras rumah ternyata memiliki fungsi lebih dari sekadar ruang fisik di bagian depan rumah. Penelitian itu menemukan bahwa teras menjadi tempat lahirnya percakapan kecil, pengamatan terhadap lingkungan sekitar, hingga terbentuknya hubungan sosial antartetangga.
Artinya, teras bukan hanya tempat meletakkan kursi atau menunggu tamu datang. Di sana, orang-orang diam-diam sedang membangun rasa memiliki terhadap lingkungan tempat mereka tinggal.
Namun pelan-pelan, beberapa hal berubah.
Penelitian lain berjudul “Push and Pull Forces Away from Front Porch Use” karya Georjeanna Wilson-Doenges menunjukkan bahwa berkurangnya kebiasaan menggunakan teras dipengaruhi perubahan desain rumah, meningkatnya penggunaan ruang privat, hingga perubahan pola hidup masyarakat modern.
Mungkin itulah yang mulai terasa hari ini.
Pagar rumah menjadi semakin tinggi. Garasi menjadi pintu utama keluar-masuk rumah. Jalanan mulai dipenuhi kendaraan. Sore hari yang dulu diisi suara sapaan berganti dengan suara televisi dari balik dinding atau cahaya layar dari tangan masing-masing.
Orang masih tinggal berdekatan, tetapi belum tentu saling mengenal.
Mungkin bukan karena manusia tiba-tiba berhenti membutuhkan orang lain. Barangkali ruang untuk saling bertemu yang perlahan mengecil. Dulu seseorang cukup duduk di teras untuk mengetahui kabar sekitar. Sekarang seseorang bisa mengetahui kehidupan orang lain dari layar ponsel, tetapi belum tentu tahu nama tetangga di sebelah rumah.
Padahal ada kehangatan yang tidak selalu bisa dikirim melalui pesan singkat. Ada rasa akrab yang lahir dari sapaan kecil. Dari pertanyaan sederhana, “baru pulang kerja?” atau “sudah makan belum?”
Jejaknya mungkin masih tersisa di beberapa kampung yang menjelang petang kursi-kursi masih menghadap jalan. Masih ada rumah yang terasnya menjadi tempat orang berhenti sejenak sebelum pulang.
Sebab mungkin yang perlahan hilang bukan sekadar kebiasaan duduk setelah asar.
Mungkin yang sedang pelan-pelan menjauh adalah cara manusia merasa dekat satu sama lain.
(Azm/Oby)

