Suarastra.com – Tiang Guru dan Gerhana Bulan Kata orang-orang tua dahulu, yang hidupnya bersahabat dengan tanah dan matanya akrab menilik tanda langit, segala yang tegak di bumi bersambung jua dengan yang beredar di langit.
Rumah itu bukan sekadar papan bersua paku, bukan cuma kayu bertindih atap, melainkan tubuh yang bernyawa seperti, lantainya kaki, dindingnya rusuk, dan tiang guru itulah jantungnya.
Tatkala tiang guru mula ditegakkan, dibisikkan doa dengan lidah yang jernih, ditabur beras penawar bala, dipercik air penyejuk sengketa, agar rumah tahu jalan pulang penghuninya, agar celaka lupa akan pintu masuknya.
Maka berpesanlah tetua, tutupilah tiang guru dengan daun pisang, selubungi ia laksana ibu menyelimuti anak. Jangan dibiarkan ia disapa cahaya gerhana, jangan dibiarkan ia menatap bulan yang luka. Karena gerhana itu waktu alam beringsut, saat yang halus keluar dari persembunyian, saat sial mudah hinggap pada yang tegak, pada yang sunyi.
Jika tiang guru dibiarkan terbuka, alamat rezeki seret bagai sungai kemarau, penghuni lekas berselisih kata, rumah terasa dingin walau api menyala. Namun jika ia ditutup daun yang hijau, daun lambang hidup dan teduh, daun penawar panas dan penolak petaka, maka selamatlah nadi rumah, terpeliharalah tuah, terjagalah berkah.
Demikianlah adat mengajar, yang tegak dijaga, yang hidup dipelihara, yang ganjil dijauhi, agar damai berdiam selamanya. Itulah petuah lama, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menuntun adab bahwa rumah wajib dihormati, dan alam patut disadari.
#Avisapranatungga

