Suarastra.com – Keserakahan itu seperti api dalam sekam, nyaris tak terlihat, namun perlahan menghanguskan segala yang disentuhnya. Ia tidak datang dengan suara gemuruh, tidak pula dengan tanda yang mudah dikenali. Ia hadir sebagai bisikan halus di dalam hati, membuat manusia merasa kurang, bahkan ketika tangannya sudah penuh.
Di sebuah rumah sederhana, ketika senja turun perlahan dan suara alam mulai merendah, seorang ayah duduk di beranda kayu bersama anaknya. Angin membawa bau tanah yang lembap, seolah mengingatkan bahwa hidup selalu kembali pada asalnya. Anak itu menatap ayahnya dengan mata penuh tanya tentang hidup, tentang keinginan, dan tentang dunia yang terasa begitu luas.
Sang ayah tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara yang tenang namun dalam
“Anakku, ingatlah satu hal keserakahan itu seperti api dalam sekam. Ia tidak langsung terlihat, tapi kalau kau biarkan, ia akan membakar habis hidupmu tanpa kau sadari.”
Anak itu terdiam, mencoba memahami.
Ayahnya melanjutkan,
“Awalnya kau hanya ingin sedikit lebih. Itu wajar. Semua orang ingin hidup lebih baik. Tapi kalau kau tidak pandai membatasi diri, keinginan itu akan tumbuh menjadi kerakusan. Dan saat itu terjadi, kau bukan lagi yang mengendalikan keinginanmu justru keinginan itulah yang mengendalikanmu.”
Ia mengambil segenggam tanah, lalu membiarkannya jatuh perlahan di sela jari-jarinya.
“Lihat ini. Tanah akan selalu kembali ke bumi, seberapa banyak pun kau genggam. Begitu juga harta, kedudukan, dan semua yang kau kejar di dunia. Tak ada yang benar-benar bisa kau miliki selamanya.”
Anak itu menunduk, meresapi setiap kata.
“Jangan iri pada milik orang lain,” lanjut sang ayah. “Jangan pula merasa hidupmu kurang hanya karena melihat orang lain lebih. Ukurlah hidupmu dari rasa cukup di hatimu, bukan dari banyaknya yang kau kumpulkan.”
Suara ayahnya semakin lembut, namun justru terasa lebih kuat.
“Kalau suatu hari kau harus memilih, pilihlah menjadi orang yang cukup, bukan orang yang selalu merasa kurang. Karena orang yang merasa cukup akan hidup tenang. Tapi orang yang serakah, walau dikelilingi harta, hatinya akan tetap kosong.”
Ia menepuk bahu anaknya perlahan.
“Jaga hatimu, Nak. Jangan biarkan api itu tumbuh di dalamnya. Sebab sekali ia membesar, ia tidak hanya membakar milikmu tapi juga hubunganmu dengan orang lain, bahkan dengan dirimu sendiri.”
Senja pun tenggelam sepenuhnya, meninggalkan langit yang redup dan sunyi. Namun di dalam hati anak itu, kata-kata sang ayah menyala bukan sebagai api yang menghanguskan, melainkan sebagai cahaya yang menuntun langkahnya kelak.
Dan dari situlah ia mulai belajar, bahwa hidup bukan tentang memiliki sebanyak mungkin, melainkan tentang mengetahui kapan harus berhenti dan bersyukur.
(Caa)

