Suarastra.com – Senja mulai turun di Taman Kota Raja. Namun, suasana yang dulu ramai dengan cahaya lampu warna-warni dan deretan pedagang kini terasa berbeda. Ruang terbuka yang sempat menjadi ikon tempat berkumpul warga Tenggarong itu perlahan kehilangan pesonanya.
Lampu taman yang banyak tidak lagi menyala membuat sejumlah sudut kawasan terlihat gelap saat malam hari. Kondisi itu berdampak langsung pada jumlah pengunjung yang terus menurun, sekaligus memukul pendapatan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menggantungkan hidup di kawasan tersebut.
Di antara pedagang yang masih bertahan adalah Eni, penjual jajanan ringan yang sudah berjualan sejak Taman Kota Raja masih menjadi salah satu tujuan favorit warga untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
“Saya sangat menyayangkan karena Taman Kota Raja saat ini tidak terawat. Lampu-lampunya banyak yang mati, terus di Jembatan Ulin juga tidak ada lampunya jadi gelap kalau malam,” ujar Eni, pada Selasa (02/06/26).
Menurutnya, kondisi taman yang semakin redup membuat jumlah pengunjung terus berkurang. Dampaknya, pendapatan pedagang ikut menurun drastis dibanding beberapa tahun lalu.
“Untuk pendapatan turun banget. Sehari dapat Rp100 ribu saja sudah syukur,” katanya.
Eni mengaku kini sulit memprediksi keramaian pengunjung. Bahkan pada malam akhir pekan yang biasanya menjadi waktu paling ramai, kondisi taman tetap terlihat lengang.
“Kalau malam minggu sekarang tidak tentu. Kadang tetap seperti hari biasa, tetap sepi,” ungkapnya.
Meski demikian, ia masih merasakan sedikit harapan saat libur panjang atau hari besar keagamaan. Seperti saat momen Lebaran lalu, jumlah pengunjung sempat meningkat karena banyak warga dari luar daerah datang berwisata ke Tenggarong.
“Cuma waktu Lebaran kemarin Alhamdulillah ada pemasukan karena banyak orang dari luar datang ke sini,” ujarnya.
Menurut Eni, kondisi sepi ini sudah berlangsung sekitar satu hingga dua tahun terakhir. Selain karena minimnya penerangan, munculnya taman-taman baru di sejumlah lokasi juga membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan tempat rekreasi.
“Taman Kota Raja ini sudah sekitar satu atau dua tahun sepi karena lampu-lampu taman belum diperbaiki. Apalagi sekarang banyak taman baru, jadi masyarakat lebih memilih ke sana,” katanya.
Saat ini, jumlah pedagang yang masih bertahan di kawasan tersebut diperkirakan tinggal sekitar 15 hingga 16 orang. Sebagian lainnya memilih berhenti berjualan karena pendapatan yang terus menurun.
Meski kondisi belum membaik, Eni tetap memilih bertahan. Baginya, berjualan di taman itu masih menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Saya tetap jualan di sini untuk belanja sehari-hari. Walaupun pembelinya sedikit, yang penting masih ada,” tuturnya.
Sebelum mengakhiri percakapan, perempuan itu berharap, pemerintah daerah kembali memberikan perhatian terhadap Taman Kota Raja, terutama dengan memperbaiki lampu-lampu yang rusak dan meningkatkan perawatan kawasan.
“Harapan saya lampu taman bisa diperbaiki dan lebih diperhatikan lagi supaya pengunjung mau datang ke Taman Kota Raja. Kalau ramai lagi, UMKM di sini juga bisa ikut terbantu,” harapnya.
(Oby/Mii)

