Suarastra.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Barat (Kubar) terus memperkuat upaya menjaga stabilitas daerah dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam pencegahan konflik sosial. Melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), sosialisasi penanganan konflik sosial digelar di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kantor Kecamatan Penyinggahan, pada Kamis (16/07/26).
Kegiatan ini menjadi ruang memperkuat sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pendidikan, tokoh pemuda, hingga berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga keamanan dan keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat Kutai Barat.
Sambutan Bupati Kubar dibacakan Camat Penyinggahan, Edy Murhamdi. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga persatuan dan menciptakan kehidupan bermasyarakat yang damai.
Menurutnya, konflik sosial dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari perbedaan kepentingan, budaya, etnis, ras, agama, hingga persoalan sosial lainnya. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat mengganggu stabilitas keamanan dan menghambat pembangunan daerah.
“Melalui sosialisasi ini, masyarakat diharapkan semakin memahami berbagai bentuk dan penyebab konflik sosial, sekaligus mampu menyelesaikan persoalan melalui dialog, musyawarah, dan mediasi,” ujarnya.
Mengusung tema “Penguatan Peran Serta Masyarakat dan Pemuda dalam Pencegahan Konflik Sosial di Daerah,” kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari penguatan sistem peringatan dini (early warning system) agar potensi konflik dapat dikenali dan diantisipasi sejak awal.
Pemkab Kubar secara khusus mengajak generasi muda mengambil peran sebagai pelopor perdamaian dengan menjaga kerukunan, mempererat persaudaraan, serta membangun semangat toleransi di tengah masyarakat yang majemuk.
Dalam kesempatan itu juga ditegaskan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban bukan semata menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat keamanan. Peran aktif masyarakat dinilai menjadi kunci terciptanya situasi yang aman dan kondusif.
Sinergi antara pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, tokoh pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat diharapkan mampu memperkuat ketahanan sosial sekaligus mencegah munculnya potensi konflik di daerah.
“Kesadaran masyarakat untuk menjaga perdamaian terus meningkat, mengedepankan penyelesaian persoalan secara bijaksana, serta memperkuat kewaspadaan terhadap berbagai potensi konflik yang dapat mengganggu stabilitas daerah,” terang Edy
Dengan terciptanya kondisi yang aman, damai, dan harmonis, pembangunan di Kabupaten Kutai Barat diharapkan dapat berjalan lebih optimal guna mewujudkan daerah yang semakin sejahtera, adil, merata, dan beradat.
(Adv/Fac/Mii)


