Suarastra.com – Di bawah cahaya lampu malam kawasan Jam Bentong, suara puisi, monolog, dan musik akustik bergantian mengisi ruang terbuka pada Sabtu (27/06/26). Bagi sebagian anak muda yang hadir, malam itu bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ruang untuk menyampaikan hal-hal yang selama ini sulit diungkapkan.
Komunitas literasi Pixelarasi bersama organisasi Muda Sinergi menggelar Genta Aksara dengan mengusung tema “Mungkin, Kita Hanya Ingin Didengar”. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengekspresikan perasaan, berbagi pengalaman, hingga menyampaikan keresahan melalui karya dan pertunjukan seni.
Berbagai penampilan ditampilkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari pembacaan puisi, monolog, teater, panggung ekspresi, hingga prosesi lilin harapan yang menjadi simbol doa dan harapan para peserta.
Suasana hangat terasa sejak awal acara. Penampilan akustik dari siswa SMAN 2 Tenggarong membuka kegiatan, disusul pertunjukan drama dari Terminal Olah Seni (TOS) yang membawakan pementasan berjudul “Apa Keluhan Kita”.
Founder Pixelarasi, Alfiah Nur Azmi, mengatakan Genta Aksara lahir dari keinginan menghadirkan ruang yang aman bagi masyarakat yang selama ini merasa tidak memiliki tempat untuk didengar.
“Genta Aksara kami hadirkan sebagai ruang bagi masyarakat, terutama anak muda, untuk menyampaikan apa yang selama ini dipendam,” ujarnya.
Ia menjelaskan, nama Genta Aksara dimaknai sebagai lonceng yang membangkitkan aksi dan rasa. Melalui kegiatan tersebut, peserta didorong untuk berani mengungkapkan pikiran, kegelisahan, maupun harapan melalui berbagai bentuk ekspresi seni.
“Kami ingin setiap orang yang datang merasa memiliki ruang untuk berbicara, berkarya, dan mengekspresikan dirinya tanpa takut dihakimi,” kata Azmi
Menurut Azmi, Pixelarasi merupakan komunitas yang bergerak di bidang literasi dengan fokus membangun budaya membaca dan berpikir kritis di kalangan anak muda. Sementara Muda Sinergi menjadi wadah kolaborasi generasi muda dalam berbagai kegiatan kreatif dan sosial.
Bagi para peserta, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi panggung seni, tetapi juga ruang refleksi bersama. Sejumlah penampilan mengangkat tema kesehatan mental, tekanan sosial, hingga harapan terhadap masa depan.
Prosesi lilin harapan yang digelar menjelang penutupan acara menjadi momen yang paling menyentuh. Para peserta menyalakan lilin sebagai simbol doa, harapan, dan semangat untuk terus melangkah di tengah berbagai tantangan yang dihadapi.
Genta Aksara juga menjadi kegiatan perdana yang diselenggarakan Pixelarasi sekaligus menandai satu tahun perjalanan komunitas tersebut.
“Kami ingin Genta Aksara menjadi gerakan yang terus hidup, menghadirkan ruang aman bagi siapa pun untuk berdiskusi, berekspresi, dan menyampaikan keresahan,” tutup Azmi.
(*/Oby/Mii)


