Suarastra.com – Kekayaan alam bukan sekadar bentang lanskap yang memikat mata, melainkan warisan yang menyimpan jejak kehidupan, pengetahuan, dan identitas suatu bangsa. Pesan itu ditegaskan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat mengunjungi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Rabu (28/10/26) kemarin.
Kawasan yang menjadi bagian dari Geopark Maros-Pangkep tersebut memiliki nilai penting bagi pelestarian lingkungan, penelitian ilmiah, pendidikan, hingga pengembangan kebudayaan. Terlebih, Geopark Maros-Pangkep telah menyandang status UNESCO Global Geopark sejak 2023, yang menempatkannya dalam jaringan geopark dunia dengan tanggung jawab pelestarian yang harus dijaga secara berkelanjutan.
Dalam kunjungan itu, Fadli Zon menyoroti keterkaitan antara bentang alam karst, keanekaragaman hayati, dan kekayaan budaya yang tumbuh di kawasan tersebut. Menurutnya, ketiga unsur itu tidak dapat dipisahkan dalam memahami keunikan dan identitas suatu wilayah.
“Geopark ini memiliki kekayaan yang luar biasa, baik dari bentang alam, keanekaragaman hayati, maupun keunikan yang menjadi bagian dari identitas kawasan. Karena itu, kekayaan ini harus terus dijaga, dilindungi, dan dikonservasi,” ucapnya.
Sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Fadli juga mengingatkan bahwa pengakuan internasional tersebut membawa tanggung jawab tersendiri. Pengelolaan kawasan perlu memastikan keberlanjutan konservasi, pendidikan, serta pelaporan berkala sesuai ketentuan UNESCO.
“Sebagai UNESCO Global Geopark, kawasan ini juga memiliki tanggung jawab untuk memenuhi persyaratan pelestarian, edukasi, dan pelaporan secara berkala kepada UNESCO,” lanjutnya.
Di balik lanskap karst yang khas, Bantimurung juga menyimpan cerita panjang tentang penelitian alam. Kawasan ini pernah menjadi lokasi eksplorasi naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, yang meneliti kupu-kupu pada 1857. Jejak penelitian tersebut turut memperkenalkan kekayaan biodiversitas Bantimurung kepada dunia.
Dikenal dengan julukan The Kingdom of Butterfly atau Kerajaan Kupu-kupu, Bantimurung memiliki daya tarik yang tidak hanya bertumpu pada keindahan alam, tetapi juga pada keunikan spesies dan vegetasi Sulawesi. Kekayaan itu, menurut Fadli, perlu dijaga melalui perlindungan dan konservasi yang berkelanjutan.
“Kupu-kupu Bantimurung merupakan salah satu kekayaan biodiversitas Indonesia yang sangat menarik. Kawasan ini pernah menjadi lokasi penelitian Alfred Russel Wallace dan memiliki keunikan spesies yang menjadi bagian dari kekayaan alam Sulawesi. Kita perlu memastikan bahwa keanekaragaman hayati ini tetap terjaga melalui perlindungan dan konservasi yang berkelanjutan,” tambahnya.
Secara administratif, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mencakup Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), serta Kabupaten Bone. Kawasan konservasi seluas sekitar 43.077,30 hektare ini dikenal dengan formasi menara karst yang menjadi ciri khas bentang alam Maros-Pangkep.
Nilai kawasan tersebut tidak berhenti pada aspek geologi dan biodiversitas. Geopark Maros-Pangkep juga menyimpan jejak kehidupan serta tradisi masyarakat setempat yang menjadi bagian dari kekayaan budaya. Karena itu, upaya pelestarian perlu dilakukan secara terpadu, dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan sekaligus kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Kementerian Kebudayaan mendorong kolaborasi lintas sektor agar warisan alam dan budaya Bantimurung Bulusaraung serta Geopark Maros-Pangkep tetap terlindungi. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya mempertahankan nilai penting kawasan, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon didampingi Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda; Direktur Warisan Budaya, Agus Widiatmoko; serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan, Sinatriyo Danuhadiningrat.
(*)

