Suarastra.com – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah diikuti 109 juta orang hingga Oktober 2026. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan jumlah peserta meningkat menjadi 130 juta orang hingga akhir tahun, dengan fokus tidak hanya pada pemeriksaan, tetapi juga tindak lanjut pengobatan untuk mencegah risiko penyakit serius.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, CKG menjadi salah satu program prioritas pemerintah untuk memperluas deteksi dini penyakit sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Program ini juga mendukung target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dalam meningkatkan rata-rata angka harapan hidup penduduk Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun.
Menurut Budi, pemeriksaan difokuskan pada empat faktor risiko utama, yakni tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan obesitas. Pengendalian faktor tersebut diperlukan untuk menekan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.
“Target kita bukan hanya skriningnya, bukan hanya dikasih obatnya, tapi memastikan bahwa semua masyarakat kita tuh sehat,” ujarnya dalam konferensi pers dua tahun Gerak Nyata Kabinet Merah Putih di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Ia menegaskan, pemeriksaan kesehatan harus diikuti dengan pengobatan dan pemantauan bagi masyarakat yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan. Untuk mendukung langkah tersebut, pemerintah menyediakan layanan pengobatan gratis melalui puskesmas bagi masyarakat yang membutuhkan.
Budi mencontohkan hasil pemeriksaan pada tahun sebelumnya. Dari sekitar 73 juta orang yang menjalani pemeriksaan, lebih dari 7 juta orang terdeteksi mengalami hipertensi. Namun, jumlah yang menjalani pengobatan rutin baru mencapai 755.907 orang atau sekitar 11 persen.
Rendahnya tindak lanjut pengobatan tersebut menjadi tantangan tersendiri. Sebagian masyarakat masih menganggap dirinya sehat meskipun mengalami tekanan darah tinggi, terutama karena kondisi tersebut tidak selalu menimbulkan gejala yang langsung dirasakan.
“Banyak masyarakat merasa kalau mereka darah tinggi, mereka masih sehat. Ini membutuhkan edukasi,” katanya.
Kemenkes pun menargetkan proporsi penderita yang mendapatkan pengobatan meningkat secara bertahap hingga 50 persen, sebelum diarahkan menuju 80 persen. Upaya tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemberian obat, tetapi juga memastikan kondisi pasien dapat terkendali.
Budi turut menyinggung konsep Triple 80 yang diterapkan Korea Selatan sebagai gambaran pendekatan pengendalian penyakit. Konsep tersebut mencakup 80 persen populasi menjalani skrining, 80 persen orang yang terdeteksi sakit memperoleh pengobatan, dan 80 persen pasien yang diobati berhasil mengendalikan kondisi kesehatannya.
Melalui program CKG, pemerintah berupaya memperluas akses pemeriksaan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menindaklanjuti hasilnya. Dengan deteksi dini dan pengobatan yang berkelanjutan, risiko penyakit tidak menular diharapkan dapat ditekan dan kualitas hidup masyarakat meningkat.
(*)

