Suarastra.comĀ – Di Desa Rantau Panjang, di tepi sebuah sungai yang dihiasi deretan pohon kelapa, hiduplah seorang pemuda bernama Amran. Ia seorang petani kelapa sederhana yang setiap hari memanjat pohon untuk mengumpulkan buahnya. Namun, hatinya tidak sesederhana kehidupannya. Amran jatuh cinta kepada Melati, putri seorang kepala adat yang berasal dari kasta jauh lebih tinggi darinya.
Cinta Amran begitu besar sehingga ia terus berusaha mendekati Melati, meski mengetahui banyak aturan adat yang memisahkan mereka.
Orang-orang desa kerap memperingatkannya.
āAmran, kau jangan bermimpi terlalu tinggi, Keturunan bangsawan seperti Melati hanya akan menikah dengan yang sederajat. Itu aturan leluhur.ā ujar seorang tetua desa.
Namun, Amran hanya tersenyum. Ia kemudian berkata,
āPa, cinta itu tak mengenal kasta. Aku yakin, suatu hari Melati akan melihat ketulusan hatiku.ā
Setiap hari, Amran membantu Melati dan keluarganya. Ia mengantarkan kelapa hasil panennya sebagai hadiah kecil, menolong Melati ketika mengalami kesulitan, serta tetap menjaga sopan santun di hadapan keluarga Melati.
Perlahan, usaha Amran berbuah manis. Hingga pada suatu hari, Melati menerima lamarannya.
āDinda tahu kita berbeda,Namun, dinda percaya pada ketulusan hati kanda. Aku tak peduli dengan kasta.ā kata Melati dengan lembut.
Kabar bahagia itu pun tersebar ke seluruh desa. Amran yang tak mampu menahan kebahagiaannya berlari menuju kebun kelapa. Ia memanjat pohon tertinggi, lalu berteriak lantang,
āUwai’ngi ri aleknakku! Siagang naola tenna mencaji hatu!ā ucapnya dalam bahasa suku Bugis .
(Aku menikah dengan pujaanku! Cinta itu tak mengenal kasta!)
Namun, dalam kegembiraannya, Amran kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari pohon. Orang-orang desa segera berkerumun, tetapi Amran tak lagi bernapas.
Pak tua yang dahulu memperingatkan Amran hanya dapat menggelengkan kepala. Ia kemudian berkata,
āWettu, nasaba’ gau’ riwettu naia retongengngi, atureng leluhur pole’ de naingko bisa nappolai.ā
(Lihatlah, meski cinta mereka sudah ditakdirkan, aturan leluhur tetap tak bisa dianggap remeh.)
Melati yang begitu mencintai Amran tak mampu menerima kepergian sang kekasih. Ia larut dalam kesedihan yang mendalam hingga akhirnya kehilangan kewarasannya. Melati berjalan tanpa arah di desa, memanggil-manggil nama Amran sambil membawa sehelai kain yang pernah diberikan Amran kepadanya.
Kisah itu kemudian menjadi pelajaran bagi penduduk Desa Rantau Panjang. Rahman, seorang sesepuh desa, kerap mengingatkan mereka dengan sebuah kalimat penuh makna,
āCinta iye arajangnge Puee, nassabae mupatuwwai ulawengeng mupakalebbi diritae, riwettue mupada sireng.ā
(Cinta itu milik Sang Kuasa, tetapi kita harus memantaskan diri sebelum semuanya terjadi.)
Hingga kini, pohon kelapa tertinggi di desa itu dikenang sebagai tempat Amran memproklamasikan cintanya. Pohon itu menjadi saksi bisu sebuah kisah tentang cinta, adat, dan takdir, kisah yang mengajarkan bahwa cinta mungkin datang tanpa mengenal kasta, tetapi manusia tetap hidup dalam adat, martabat, dan ketentuan yang diwariskan leluhur.
Dan di bawah bayang-bayang pohon kelapa itu, kisah Amran dan Melati tetap hidup dari tutur ke tutur, sebagai kenangan tentang cinta yang pernah berani menantang batas, tetapi akhirnya harus tunduk kepada takdir.
Penulis : Avisapranatungga

