Suarastra.com – Di tengah debu peperangan yang belum sepenuhnya mengendap, secercah harapan kembali muncul di perbatasan Israel-Lebanon. Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah dipastikan diperpanjang, meski ketegangan masih menggantung seperti awan gelap di langit Timur Tengah.
Otoritas Israel menegaskan bahwa kesepakatan damai sementara itu akan tetap berlaku selama Hizbullah mematuhinya. Namun, Tel Aviv juga bersikukuh mempertahankan keberadaan pasukannya di wilayah Lebanon bagian selatan selama masa gencatan senjata berlangsung.
Seorang pejabat Israel yang identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa mekanisme gencatan senjata memberikan ruang bagi militer Israel untuk tetap berada di kawasan tersebut sekaligus merespons setiap ancaman yang dianggap muncul.
“Jika Hizbullah tidak menyerang, kami tidak akan menyerang mereka. Jika mereka menyerang kami, kami akan membalas,” ujar pejabat itu sebagaimana dikutip harian Israel, Yedioth Ahronoth.
Pernyataan tersebut mencerminkan rapuhnya jeda konflik yang kini bergantung pada keseimbangan tipis antara kehati-hatian dan potensi konfrontasi.
Perpanjangan gencatan senjata juga dikonfirmasi oleh seorang pejabat senior Amerika Serikat. Kepada Anadolu Agency, ia menyebutkan bahwa kesepakatan itu mulai berlaku pada Jumat sore, 19 Juni 2026, pukul 16.00 waktu setempat. Namun, rincian mengenai isi maupun durasi perpanjangan tersebut belum diungkap kepada publik.
Pengumuman itu datang hanya beberapa jam setelah gelombang kekerasan kembali merenggut nyawa. Sedikitnya 47 orang dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara Israel yang menghantam wilayah Lebanon bagian selatan dan timur sejak Jumat pagi.
Di sisi lain, empat tentara Israel dilaporkan tewas akibat serangan Hizbullah di kawasan Lebanon selatan. Korban di kedua belah pihak menandai salah satu eskalasi paling mematikan dalam beberapa waktu terakhir.
Situasi tersebut terjadi tak lama setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang bertujuan mengakhiri konflik di berbagai front kawasan, termasuk Lebanon. Kesepakatan itu ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu malam, 17 Juni 2026.
Meski gencatan senjata kini diperpanjang, dentuman perang belum sepenuhnya hilang dari cakrawala Timur Tengah. Di antara reruntuhan bangunan, duka keluarga korban, dan kepentingan geopolitik yang saling bertabrakan, perdamaian masih menjadi jalan panjang yang harus ditempuh oleh semua pihak.
Untuk sementara, senjata mungkin terdiam. Namun, dunia masih menunggu apakah jeda ini akan menjadi awal perdamaian yang sesungguhnya, atau hanya jeda singkat sebelum babak baru konflik kembali terbuka.
(Caa/Mii)

