Suarastra.com – Di antara sekian banyak petuah yang diwariskan orang tua kepada anak-anaknya, larangan makan sambil berjalan mungkin menjadi salah satu yang paling sering terdengar. Kalimatnya sederhana, bahkan terkesan menakut-nakuti:
“Jangan makan sambil berjalan, nanti rezeki lari.”
Namun, sebagaimana banyak petuah lama lainnya, makna yang terkandung di baliknya jauh lebih dalam daripada sekadar ancaman kehilangan rezeki.
Pada masa lalu, masyarakat hidup dengan menjunjung tinggi adab dan tata krama. Makan bukan hanya aktivitas untuk mengenyangkan perut, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap rezeki yang diperoleh dengan susah payah. Karena itu, makanan sebaiknya dinikmati dengan tenang, duduk dengan baik, dan penuh rasa syukur. Berjalan sambil makan dianggap sebagai perilaku yang kurang sopan, tergesa-gesa, dan menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap nikmat yang sedang dinikmati.
Ungkapan “rezeki lari” sesungguhnya merupakan simbol. Orang tua zaman dahulu memahami bahwa anak-anak lebih mudah menerima nasihat yang dikemas dalam bentuk peringatan sederhana. Rezeki yang dimaksud bukanlah uang atau harta yang benar-benar pergi menjauh, melainkan keberkahan yang dapat berkurang ketika seseorang tidak menghargai apa yang dimilikinya. Makan sambil berjalan berisiko membuat makanan tercecer, terbuang, atau tidak dinikmati dengan baik. Dalam pandangan masyarakat tradisional, menyia-nyiakan makanan sama artinya dengan tidak mensyukuri rezeki.
Selain itu, petuah ini juga mengandung pesan tentang kesehatan dan keselamatan. Makan sambil berjalan dapat menyebabkan seseorang tersedak karena tidak fokus pada proses mengunyah dan menelan. Kebiasaan ini juga membuat tubuh kurang nyaman dalam mencerna makanan. Dengan kata lain, larangan tersebut merupakan cara sederhana orang tua untuk mengajarkan pola hidup yang lebih tertib dan sehat.
Di era modern, ketika segala sesuatu bergerak serba cepat, makan sambil berjalan bahkan sambil bekerja sering dianggap hal biasa. Namun, petuah lama ini mengingatkan bahwa ada nilai yang tidak boleh hilang, menghargai setiap rezeki yang datang dengan cara meluangkan waktu untuk menikmatinya dengan penuh kesadaran dan rasa syukur.
Maka, ketika orang tua dulu berkata, “Jangan makan sambil berjalan, nanti rezeki lari,” yang sebenarnya ingin mereka ajarkan bukanlah ketakutan akan hilangnya rezeki, melainkan pentingnya adab, rasa syukur, dan penghormatan terhadap setiap nikmat yang telah diberikan. Sebab, keberkahan sering kali hadir bukan dari seberapa banyak yang kita miliki, tetapi dari bagaimana kita menghargai apa yang ada di hadapan kita.
#Avisapranatungga

