Suarastra.com – Penyaluran pupuk subsidi bagi petani di Kelurahan Maluhu, Kecamatan Tenggarong, mulai berjalan. Program yang berasal dari pemerintah melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar) tersebut ditujukan untuk mendukung produktivitas pertanian, khususnya kelompok tani yang masih aktif mengelola lahan sawah.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kelurahan Maluhu, Rosita, mengatakan hingga Mei 2026 cukup banyak kelompok tani yang telah mengambil pupuk subsidi sesuai alokasi yang diberikan.
Menurutnya, jumlah pupuk yang diterima setiap kelompok tani tidak sama karena disesuaikan dengan luas lahan yang dimiliki dan kebutuhan tanam masing-masing kelompok.
“Pupuk subsidi yang disalurkan kepada petani sudah dapat diakses oleh kelompok tani yang memenuhi syarat. Untuk laporan bulan Mei sendiri, cukup banyak kelompok tani yang sudah mengambil pupuk tersebut,” ujar Rosita melalui saluran selulernya, pada Jumat (12/06/26).
Dia menjelaskan, di Kelurahan Maluhu terdapat 14 kelompok tani secara administrasi. Namun, tidak seluruhnya masih aktif berproduksi. Dan, ada empat kelompok tani diketahui tidak lagi menanam padi karena sebagian lahan telah beralih fungsi menjadi kawasan permukiman.
“Secara efektif ada sekitar sembilan kelompok tani yang benar-benar aktif dan rutin menanam padi sawah. Kelompok yang tidak aktif tentu tidak lagi mendapatkan akses pupuk subsidi,” katanya.
Selain kelompok tani padi, Rosita mengatakan, ada satu kelompok tani yang fokus membudidayakan cabai. Sedangkan untuk komoditas jagung saat ini belum ada yang dikembangkan oleh petani setempat.
Lanjutnya, dia menegaskan, bahwa pupuk subsidi yang disalurkan tahun ini merupakan program pemerintah. Distribusinya dilakukan berdasarkan data kebutuhan petani yang telah terdaftar dalam kelompok tani aktif.
“Jumlah pupuk berbeda-beda karena menyesuaikan luas lahan masing-masing. Jadi tidak diberikan secara merata. Semakin luas lahan yang ditanami, maka kebutuhan pupuknya juga berbeda,” jelasnya.
Disisi lain, Rosita juga mengungkapkan, saat ini kondisi di lapangan pada sektor pertanian di Maluhu hingga pertengahan tahun ini masih relatif stabil.
“Kalau secara umum hasil produksi masih tergolong normal. Ada yang meningkat dan ada yang menurun,” ungkap Rosita.
Salah satu kelompok tani yang mencatat hasil positif adalah Rindang Lestari. Sebaliknya, kelompok tani Sri Rukun I masih menghadapi tantangan cukup berat.
“Keluhan terbesar terjadi setelah banjir. Banyak tanaman di Sri Rukun I terserang penyakit akibat genangan air. Lokasi itu memang menjadi titik kumpul air ketika banjir terjadi,” katanya.
“Untuk kelompok tani lainnya, secara umum kondisi pertanian masih baik,” tutup Rosita.
(Oby/Mii)

