Suarastra.com – Ingatan tentang kota tak selalu hadir dalam buku sejarah. Ia bisa hidup dari cerita-cerita kecil, dari sudut jalan yang berubah, hingga kebiasaan lama yang perlahan hilang. Hal inilah yang coba dihadirkan dalam Pameran Samarinda Graphic Memoir 2026, sebuah ruang refleksi yang mempertemukan seni dan memori kota.
Lebih dari 200 karya ditampilkan dalam pameran ini, merangkum berbagai potongan kisah tentang Samarinda. Mulai dari perubahan ruang kota hingga pengalaman personal yang jarang terdokumentasikan. Antusiasme publik pun terlihat dari kehadiran sekitar 400 pengunjung selama gelaran berlangsung.
Pameran ini digagas oleh desainer grafis Ramadhan S. Pernyata melalui Samarinda Design Hub. Ia konsisten mengembangkan pendekatan graphic memoir, yang memadukan ilustrasi dengan narasi personal sebagai bentuk pengarsipan visual kota.
“Pameran ini bukan tentang nostalgia, tetapi tentang bagaimana kita mengenali kembali ruang hidup kita sendiri,” ujar Ramadhan, pada Senin (20/04/26).
Disiapkan sejak Agustus 2025, pameran ini menjadi gelaran ketujuh yang digelar. Sebanyak 20 partisipan terlibat, masing-masing menghadirkan sudut pandang yang jujur dan reflektif tentang Samarinda yang terus berubah.
Karya-karya yang dipamerkan memotret berbagai fenomena, mulai dari wajah kota yang bergeser, kebiasaan lama yang memudar, hingga dinamika sosial yang kerap luput dari perhatian. Semuanya dikemas dalam visual sederhana namun kuat, seolah mengajak pengunjung menyusuri kota dalam versi yang lebih personal.
Tak hanya dihadiri pegiat seni, pameran ini juga menarik perhatian pejabat daerah, tokoh pendidikan, serta pelajar dan mahasiswa. Kehadiran berbagai kalangan ini menunjukkan bahwa ingatan kota merupakan bagian dari kesadaran bersama, bukan hanya milik seniman.
Menariknya, upaya pengarsipan ini telah menembus ranah global. Sejumlah publikasi Samarinda Graphic Memoir kini tersimpan di Library of Congress dan Leiden University Libraries. Tahun ini, katalog terbaru juga direncanakan menyusul untuk memperluas jejak Samarinda di tingkat internasional.
Melalui pameran ini, kesadaran akan pentingnya menjaga ingatan kota diharapkan terus tumbuh di tengah derasnya perubahan zaman.
“Yang hilang bukan hanya ruang, tapi juga cara kita mengingatnya,” tutup Ramadhan.
Lebih dari sekadar pameran, Samarinda Graphic Memoir menjadi pengingat bahwa setiap sudut kota menyimpan cerita. Dan melalui seni, cerita-cerita itu tetap hidup, dirawat, dan diwariskan.
(*/Caa/Oby)

