Suarastra.com – Penanggalan kalender Bali kembali menghadirkan panduan spiritual melalui ala ayuning dewasa pada Jumat, 17 April 2026. Berdasarkan perhitungan tradisional yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Hindu Bali, hari ini tergolong memiliki banyak waktu baik untuk berbagai aktivitas, mulai dari ritual keagamaan hingga kegiatan duniawi.
Ala ayuning dewasa sendiri merupakan sistem penentuan hari baik dan buruk yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan upacara adat, keagamaan, maupun aktivitas sehari-hari. Perhitungan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Mengacu pada sumber kalender Bali, hari ini dipenuhi sejumlah dewasa ayu (hari baik). Di antaranya, Amerta Dewa dan Dewa Ngelayang yang dinilai sangat baik untuk melaksanakan Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, serta membangun tempat-tempat suci atau ibadah. Momentum ini juga dianggap tepat untuk mendirikan bangunan sakral yang memiliki nilai spiritual tinggi.
Selain itu, Amerta Gati dan Ayu Nulus memberikan energi positif untuk memulai usaha maupun kegiatan pertanian. Bagi masyarakat yang hendak membuka peluang baru, hari ini dinilai membawa keberuntungan dan kelancaran.
Dalam bidang ekonomi, Sedana Yoga menjadi penanda baik untuk memulai aktivitas perdagangan, termasuk membuat sarana berdagang dan membuka usaha baru, karena dipercaya akan mendatangkan rezeki yang lancar.
Sementara itu, Dina Jaya mendukung kegiatan pembelajaran, seperti menari atau menuntut ilmu lainnya yang berorientasi pada pencapaian prestasi. Hal ini menunjukkan bahwa hari ini juga baik untuk pengembangan diri.
Namun demikian, terdapat pula beberapa pantangan yang perlu diperhatikan. Babi Munggah dinyatakan tidak baik untuk bercocok tanam, sedangkan Kala Buingrau tidak dianjurkan untuk kegiatan membangun atau mengatapi rumah. Selain itu, Salah Wadi menjadi peringatan agar tidak melaksanakan upacara Manusa Yadnya maupun Pitra Yadnya pada hari ini.
Secara keseluruhan, Jumat ini juga didukung oleh nilai spiritual seperti Pararasan: Laku Pandita Sakti, Pancasuda: Sumur Sinaba, Ekajalaresi: Suka Pinanggih, dan Pratiti: Separsa yang semakin memperkuat nuansa kebijaksanaan, kebertemuan baik, dan keseimbangan batin.
Dengan beragam penanda tersebut, masyarakat diimbau untuk bijak dalam memilih waktu pelaksanaan kegiatan, agar selaras dengan nilai-nilai tradisi dan memperoleh hasil yang maksimal, baik secara sekala maupun niskala.
(Caa/Mii)

