Suarastra.com – Awan putih berarak perlahan, bersenandung di singgasana langit, membawa dendang sunyi dari negeri nun jauh. Tiada ia bersuara, namun kalbu yang bening dapat menangkap makna pada setiap geraknya.
Adakalanya ia berarak bersama angin, adakalanya berdiam di kaki cakrawala, menanti senja menyulam warna pada tubuhnya. Demikianlah kehidupan, tiada segala yang indah mesti dimiliki, dan tiada segala yang berlalu harus ditangisi. Ada yang hadir sekadar menyapa, ada pula yang pergi meninggalkan hikmah untuk jiwa.
Maka pandanglah awan dengan mata kebijaksanaan, sebab di balik kelembutannya tersimpan rahasia alam yang tiada habis direnungkan.
Petuah lama berkata,
“Jangan disangka awan yang putih tiada menyimpan mendung, jangan disangka langit yang teduh tiada menyimpan guruh. Hiduplah dengan hati yang jernih, sebab yang elok dipandang mata belum tentu menenteramkan jiwa. Dan janganlah tinggi hati ketika berada di puncak, kerana awan pun akhirnya berarak pergi, meninggalkan langit sebagaimana ia mula ditemui.”
Penulis : Avisapranatungga

