Suarastra.com – Erau Adat Kutai 2026 memasuki babak baru. Festival budaya yang menjadi warisan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura itu resmi masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN), membuka peluang promosi hingga ke tingkat internasional.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) meluncurkan rangkaian Erau Adat Kutai 2026 di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Kamis (20/08/26). Peluncuran ditandai dengan pengenalan tema, logo, video promosi, hingga jadwal pelaksanaan festival.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar Heriansyah mengatakan, status sebagai bagian dari KEN membuat promosi Erau tidak lagi terbatas di tingkat daerah maupun nasional.
“Erau tahun ini masuk dalam Karisma Event Nusantara. Tentu promosinya tidak hanya berskala nasional, tetapi juga internasional,” ujarnya.
Pemkab Kukar berharap momentum tersebut mampu menarik lebih banyak wisatawan, baik dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Tak hanya itu, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura juga berencana mengundang para sultan dari berbagai kerajaan di Nusantara untuk menghadiri Erau tahun ini.
“Pihak Sultan juga mengundang para Sultan se-Nusantara yang sah, bukan yang abal-abal,” kata Heriansyah.
Erau Adat Kutai 2026 dijadwalkan berlangsung pada 20–27 September 2026. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan pada 28 September yang bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kota Tenggarong ke-244.
Tahun ini, Erau mengusung tema “Raja Menunggal Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya.”
Menurut Heriansyah, tema tersebut menggambarkan makna utama Erau sebagai momentum pertemuan antara sultan dengan masyarakat.
“Tema ini selaras dengan makna Erau. Momen Erau merupakan pertemuan antara raja atau sultan dengan rakyatnya. Kalau sekarang, kita menyebutnya sebagai pertemuan antara Sultan dengan masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara,” jelasnya.
Ia menerangkan, kata Erau berasal dari istilah “eroh” yang berarti riang dan gembira.
Dalam tradisi tersebut terdapat pihak yang “dieraukan”, yakni raja atau sultan, pihak yang “mengeraukan” dari kalangan kerabat, serta masyarakat yang bersama-sama bersukacita.
Karena itu, menurutnya, Erau tidak sekadar menjadi tontonan budaya. Berbagai prosesi adat di dalamnya mengandung nilai yang penting untuk diwariskan kepada generasi muda.
“Makna Erau inilah yang perlu kita sosialisasikan dan internalisasikan kepada anak-anak kita. Dalam proses Erau ini banyak nilai-nilai yang terkandung dan bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Salah satu prosesi yang sarat makna adalah Beluluh, yang dimaknai sebagai proses membersihkan energi negatif dan membangkitkan energi positif, khususnya bagi seorang pemimpin dalam menjalankan amanah serta menjaga adat dan budaya.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan peluncuran tersebut menjadi titik awal sosialisasi menuju pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026.
“Tadi kita melaksanakan peluncuran atau kick off untuk pelaksanaan Festival Budaya Erau Adat Kutai Tahun 2026,” katanya.
Ia berharap seluruh rangkaian Erau tahun ini dapat terlaksana secara utuh tanpa mengurangi nilai kesakralan tradisi.
Selain itu, keterlibatan masyarakat akan diperluas melalui berbagai kegiatan pendukung, termasuk olahraga tradisional.
“Kita berharap kegiatan Erau tahun ini bisa lebih banyak lagi melibatkan warga masyarakat, misalnya dari kegiatan olahraga tradisional dan kegiatan lainnya, tanpa mengurangi nilai kesakralan daripada Erau itu tadi,” ujarnya.
Pemkab Kukar juga akan melakukan sosialisasi Erau ke 10 kabupaten/kota di Kalimantan Timur sebagai bagian dari penguatan jejaring sejarah dan budaya Kerajaan Kutai.
Untuk mendukung pelaksanaan Erau, Pemkab Kukar mengalokasikan anggaran sekitar Rp8 miliar melalui mekanisme hibah kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Heriansyah menjelaskan, sekitar Rp4 miliar dialokasikan untuk kegiatan sakral sesuai pakem adat, sedangkan Rp4 miliar lainnya digunakan untuk kegiatan seremonial seperti pembukaan, ekspo, dan pentas budaya.
Dana hibah tersebut juga mencakup operasional Kesultanan serta pemeliharaan Kedaton, termasuk perbaikan dan pengecatan bangunan.
Di sisi lain, Pemkab Kukar masih menunggu kepastian dukungan dari Kementerian Pariwisata karena menyesuaikan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat.
Dalam waktu dekat, Bupati Kukar bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dijadwalkan beraudiensi dengan Menteri Pariwisata dan Menteri Kebudayaan untuk membahas dukungan terhadap pelaksanaan Erau.
Dengan masuknya Erau Adat Kutai ke dalam kalender Karisma Event Nusantara, Pemkab Kukar berharap tradisi yang telah diwariskan lintas generasi itu semakin dikenal di tingkat nasional hingga internasional, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu agenda budaya unggulan Indonesia.
(Oby/Mii)

