Suarastra.com – Kebakaran yang melanda kawasan padat penduduk di RT 33, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), menjadi perhatian serius pemerintah dan DPRD. Selain berdampak pada sekitar 50 kepala keluarga (KK), kepadatan permukiman dan keterbatasan akses jalan dinilai turut menyulitkan proses penanganan kebakaran pada Senin (05/10/26) sore.
Ketua DPRD Kukar, Ahmad Yani, meninjau langsung lokasi kebakaran bersama sejumlah pihak. Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi warga terdampak sekaligus mengevaluasi berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan.
“Kita harus betul-betul menjadikan dan mengevaluasi kejadian hari ini supaya nanti ke depan tidak terulang lagi,” ujarnya.
Menurutnya, kepadatan permukiman dan kondisi akses jalan menjadi salah satu persoalan yang perlu segera mendapat perhatian. Akses yang terbatas dinilai dapat menyulitkan kendaraan pemadam kebakaran sekaligus membuat api lebih cepat merambat ke bangunan di sekitarnya.
“Karena kepadatan, kemudian fasilitas, jalan yang tidak memadai, akhirnya yang harusnya satu kebakaran, ini ternyata hampir semuanya kena. Bahkan sekitar kita itu sekitar 50 kepala keluarga,” katanya.
Selain penanganan warga terdampak, ia mendorong adanya pemulihan dan penataan kembali kawasan permukiman. Penataan tersebut diharapkan tidak hanya memperbaiki kondisi lingkungan, tetapi juga memastikan fasilitas umum dan fasilitas sosial tersedia sesuai kebutuhan.
“Saya ingin perhatikan sehingga ke depan insya Allah semoga ini bisa kita recovery kembali, perbaiki kembali, ditata ulang supaya betul-betul fasilitas pemerintah juga, baik fasilitas umum maupun fasilitas sosialnya bisa recovery semua,” ucap politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).
Ia menegaskan, penataan kawasan juga harus mempertimbangkan aspek keselamatan dan akses saat kondisi darurat. Jalan yang memadai serta sarana pencegahan kebakaran diperlukan agar proses evakuasi maupun pemadaman dapat dilakukan lebih cepat.
“Fasilitas sosial, fasilitas umum termasuk misalnya jalan yang kira-kira memang ketika terjadi kebakaran itu aksesnya mudah, termasuk juga fasilitas-fasilitas terkait dengan sarana pencegahan kebakaran,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, bantuan juga diserahkan secara simbolis kepada masyarakat yang terdampak. Bantuan diharapkan dapat meringankan beban warga yang saat ini masih menghadapi dampak dari musibah kebakaran. Ia juga mengajak masyarakat yang memiliki kemampuan lebih untuk ikut membantu warga terdampak.
“Tolong sama-sama bawa ke tempat ini untuk meringankan beban masyarakat kita yang terkena dampak,” katanya.
Lebih lanjut, Yani menegaskan, persoalan fasilitas pendukung pemadam kebakaran tidak boleh kembali terjadi. Ketersediaan infrastruktur harus menjadi bagian dari evaluasi, khususnya di kawasan yang memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi.
“Ke depan tidak boleh lagi yang seperti itu. Tidak ada alasan. Terkait dengan fasilitas, termasuk infrastruktur pemadam kebakaran, itu harus disiapkan,” tegasnya.
Terakhir, Yani memastikan evaluasi akan dilakukan untuk memetakan kebutuhan infrastruktur penanganan kebakaran di berbagai kawasan. Hal itu termasuk permukiman padat yang dinilai masih memiliki keterbatasan akses maupun fasilitas pendukung.
“Ke depan insya Allah kita akan evaluasi semua, kita pastikan bahwa semuanya itu lengkap dan tidak boleh ada tempat-tempat, termasuk yang memang padat penduduk, ketika kita hitung-hitung fasilitasnya juga tidak memadai. Itu ke depan harus tersedia semua,” pungkasnya.
(Hen/Mii)

