Suarastra.com – Keterbatasan sumber air masih menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan kebakaran di kawasan permukiman Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar). Kondisi tersebut mendorong Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar memperluas sistem hidran kering sebagai bagian dari upaya mitigasi kebakaran.
Hal itu disampaikan Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani, saat mengevaluasi penanganan kebakaran yang melanda kawasan Jalan Alimudin dan Jalan Danau Aji, Tenggarong, Senin (05/10/26) kemarin.
Menurut Afe, sistem hidranisasi tidak dapat dibangun hanya oleh Damkar. Perlu perencanaan dan koordinasi lintas instansi, termasuk perangkat daerah yang menangani permukiman, pekerjaan umum, serta perusahaan air minum.
“Kalau saya bilang hidran itu harus, tapi Damkar dalam hal ini tidak bisa bergerak sendiri,” ujar Fida yang akrab disapa Afe, Selasa (06/10/26).
Ia menjelaskan, Damkar dapat melakukan perencanaan sistem hidranisasi di kawasan permukiman. Namun, pelaksanaan dan pengembangannya tetap membutuhkan keputusan pimpinan serta dukungan dari instansi terkait.
Salah satu upaya yang telah dilakukan Damkar yakni membangun hidran kering. Sistem ini dinilai membantu petugas ketika terjadi kebakaran karena sumber air dapat lebih mudah dijangkau tanpa harus mengambil air dari lokasi yang jauh.
“Yang sudah kita jalankan kemarin itu hidran kering, murni inisiasi Damkar yang bisa kita lakukan. Tapi dalam konteks terbatas,” katanya.
Keterbatasan tersebut terlihat saat penanganan kebakaran. Hidran kering yang sebelumnya dibangun hingga kawasan Simpang Tiga Kartini memiliki panjang sekitar 980 meter berdasarkan hasil evaluasi.
Afe mengatakan, secara fungsi, hidran tersebut berjalan sesuai dengan perencanaan. Namun, jaringan yang hanya mengarah ke satu titik membuat petugas masih menghadapi kendala ketika membutuhkan sumber air di lokasi lain.
“Kalau kita evaluasi, Alhamdulillah bisa dikatakan 100 persen berfungsi dengan baik sesuai dengan perencanaan kita. Tapi itu mengarah kepada satu titik,” jelasnya.
Kondisi serupa kembali terlihat ketika petugas harus melakukan pengisian ulang air dari kawasan lain. Dalam situasi tertentu, petugas membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 20 menit untuk mengantre dan mengisi kembali tangki.
Dalam penanganan kebakaran tersebut, ia juga menyebutkan, petugas dalam waktu kurang lebih 30 menit telah mengeluarkan tiga tangki dengan kapasitas masing-masing 6.000 liter, 14.000 liter, dan 10.000 liter.
“Dalam konteks saya melakukan tugas kemarin, sebenarnya, ya ini kita bukan berandai-andai. Faktanya di lapangan, dalam kurang lebih 30 menit, saya memuntahkan 3 tangki dengan kapasitas 6.000, 14.000, 10.000. Itu sebenarnya 2 bangunan,” jelasnya.
Namun, ketika petugas harus kembali melakukan pengisian air, perubahan arah angin membuat kobaran api kembali membesar. Dari evaluasi tersebut, Fida menilai persoalan utama kembali berkaitan dengan ketersediaan sumber air.
“Artinya kembali kepada sumber air. Apa yang sudah beberapa tahun yang lalu kita diskusikan, apa kendala kita di sini, kembali kepada sumber air,” tegasnya.
Tak hanya itu, dirinya juga menjelaskan, pembangunan hidran tidak cukup hanya dengan menentukan lokasi yang membutuhkan fasilitas tersebut. Perlu diperhitungkan luas kawasan, cakupan layanan, tekanan air hingga sistem penggerak yang digunakan. Dan, jika sistem hidran menggunakan jaringan perusahaan air minum, terdapat persoalan terkait tekanan air.
“Kalau kita tandon dengan milik PDAM, kita katakan mungkin airnya terbatas dengan berapa tekanan yang diberi oleh PDAM. Karena PDAM bukan tidak bisa memberikan tekanan bar yang kuat, tetapi apabila dia memberikan tekanan bar yang kuat, berarti jaringan rumah tangga yang akan pecah, ya kalah,” jelas Afe
Menurutnya, konsep hidran kering dapat menjadi salah satu sistem proteksi kebakaran di kawasan permukiman. Namun, penerapannya membutuhkan dukungan anggaran dan perencanaan yang cukup besar.
Terakhir, Afe berharap, program hidran kering yang telah berjalan dapat dilanjutkan hingga menjangkau kawasan permukiman yang dinilai rawan kebakaran, termasuk kawasan segitiga Danau Aji.
“Mudah-mudahan itu ada yang mau mendorong lewat DPRD, lewat TAPD. Kita masuk, kita teruskan saja pipa hidran kering itu masuk ke wilayah permukiman segitiga ini,” pungkasnya.
(Hen/Mii)

