Suarastra.com – Di kaki gunung yang megah, tertutup kabut misteri dan legendaris, hiduplah sepasang suami istri sederhana. Mereka adalah warga desa yang dikenal dengan kehidupan mereka yang penuh syukur dan kebaikan. Setiap hari, rumah mereka dikelilingi oleh keindahan taman kecil yang dipelihara dengan penuh cinta oleh putri mereka yang cantik, Arum.
Arum memiliki hubungan yang khusus dengan bunga-bunga yang ada di taman itu, memancarkan keindahan dan aroma yang membuat taman mereka menjadi kebanggaan di desa. Bunga-bunga di taman mereka bukan hanya sekadar hiasan, tetapi simbol cinta dan kerja keras Arum yang terpatri dalam setiap kelopak dan daun.
Arum, Putri Taman yang Dicintai
Arum adalah gadis yang sangat dicintai oleh semua orang di desanya. Dengan senyum lembut dan sifatnya yang ramah, dia selalu menghiasi rambutnya dengan bunga-bunga segar dari tamannya. Setiap kali dia melangkah keluar dari rumah, dia membawa aroma segar bunga-bunga yang memikat siapa saja yang melintas.
Kecintaannya terhadap bunga tidak hanya ia simpan sendiri, melainkan ia bagikan pada setiap orang yang berkunjung ke tamannya. Arum menebarkan kebahagiaan dan kedamaian di sekelilingnya.
Perjalanan ke Lereng Gunung
Pada suatu pagi yang cerah dan menyegarkan, ketika embun masih menempel pada daun-daun, Arum merasakan dorongan kuat untuk menjelajahi lereng gunung.
“Ayah, Ibu, izinkan aku mencari bunga liar di lereng gunung. Mungkin di sana aku akan menemukan bunga baru untuk taman kita,” pintanya penuh semangat.
Orang tuanya menatap dengan cemas. Gunung itu dikenal dalam cerita rakyat sebagai tempat yang penuh rahasia dan kekuatan tak kasatmata. Namun, dengan berat hati mereka mengizinkannya, “Pergilah, Anakku. Tapi kembalilah sebelum siang.”
Firasat Sang Ayah
Dengan hati ringan, Arum melangkah pergi. Namun tak lama, sang ayah merasakan firasat buruk. Gelas di tangannya terjatuh dan pecah. Cemas, ia segera menyusul Arum ke arah lereng gunung.
Di tepi jurang curam, ia melihat Arum duduk membelakangi, memegang sesuatu yang berkilauan. Saat ia memanggil, Arum menoleh dengan tatapan kosong. Suaranya berubah,
“Jangan ganggu aku!”
Wajahnya pucat kebiruan. Dengan kasih sayang dan usaha keras, sang ayah merebut benda dari tangan putrinya yaitu sebuah kembang goyang emas.
Rahasia Bunga Gaib
Begitu benda itu terlepas, Arum tersadar.
“Ayah, ayo kita pergi!” pintanya dengan suara gemetar. Mereka segera turun dan kembali ke rumah.
Arum bercerita ia menemukan dua bunga putih membentuk gerbang alami. Ketika hendak memetiknya, seorang dara berpakaian kuno muncul dan berkata,
“Jangan petik bunga-bunga ini, ini bunga kesayanganku.”
Namun saat dara itu lenyap, Arum kembali dan memetiknya. Bunga itu berubah menjadi kembang goyang emas. Dunia menggelap dan ia tak ingat apa-apa..
Nama yang Dikenang
Kisah itu menyebar di desa. Gunung itu kini dikenal sebagai Taman Arum, sebagai penghormatan dan peringatan akan kekuatan alam dan kisah keluarga
Budi dan Kejadian Terulang
Bertahun kemudian, seorang pemuda bernama Budi mencoba menjelajahi lereng yang sama. Ia menemukan kembang goyang emas di sekitaran lereng gunung.
Tanpa ragu, ia mengambilnya. Sejak itu, Budi mengalami kejadian-kejadian aneh. Ia merasa diikuti, dihantui dalam tidur, dan dihimpit rasa takut. Akhirnya, ia mengembalikan kembang itu ke tempat asalnya.
Taman Tak Kasat Mata
Cerita Arum dan Budi menjadi pengingat akan pentingnya menghormati hak dan wilayah makhluk tak kasatmata. Di puncak gunung, di antara kabut dan angin, bunga harum masih terasa, tanda taman indah yang tak kasat mata masih ada.
Konon, siapa pun yang mendaki dengan niat tulus dan hati bersih akan merasakan ketenangan tak terucap. Jiwa mereka seakan disentuh oleh kasih sayang Arum yang tak pernah pudar.
Gunung itu menjadi tempat suci, bukan karena megahnya, melainkan karena kisah yang tumbuh dari cinta, kesedihan, dan penghormatan pada alam.
Penutur : Nek Esah
Penulis : AvisaPranaTungga

