Suarastra.com – Ada manusia yang tersesat bukan karena tak tahu jalan pulang.
Ia hanya terlalu lama berjalan menjauh.
Menjauh ke dalam keramaian, ke dalam ambisi, ke dalam tepuk tangan yang sebentar terdengar lalu hilang. Sampai suatu hari, ketika dunia sudah terlalu bising, ia mulai merindukan sesuatu yang pernah begitu akrab: suara yang memanggilnya pulang.
Barangkali Nyanyian Surau milik Fourtwnty adalah tentang itu.
Tentang seseorang yang pernah begitu sibuk mencari dirinya di luar, lalu perlahan sadar bahwa yang hilang justru sesuatu yang ada di dalam.
“Merasa haus dipuji / Hingga kulupa diri”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan semacam tamparan yang pelan.
Bukankah banyak dari kita hidup dengan dahaga yang serupa?
Ingin dipuji. Ingin dianggap. Ingin menjadi seseorang di mata orang lain. Kita mengejar pengakuan sampai lupa bertanya: setelah semua orang melihat kita, apakah kita masih mengenali diri sendiri?
Di situlah lagu ini terasa seperti cermin. Ia tidak menunjuk siapa yang salah. Tidak pula berdiri sebagai suara yang paling suci. Ia justru mengakui kegelisahannya sendiri tentang pernah kehilangan arah, tentang pernah terlalu jauh, tentang menjadi asing bagi diri sendiri. Dan kemudian, di tengah perjalanan itu, ada sebuah surau tua.
“Berbekal selembar peta – Berakhir di surau tua”
Peta seharusnya membawa seseorang menuju tujuan.
Namun hidup rupanya tidak sesederhana itu.
Kita bisa memiliki rencana, cita-cita, daftar tujuan, bahkan jalan yang telah dipilih dengan begitu hati-hati tetapi tetap saja berakhir di tempat yang tidak pernah kita perkirakan.
Surau menjadi semacam persinggahan.
Bukan tempat yang megah. Bukan pula tujuan yang dipenuhi sorak.
Hanya sebuah ruang sederhana, tempat suara doa mungkin terdengar lebih jelas karena dunia di luar sedang sibuk berteriak.
Dan mungkin, surau dalam lagu ini bukan sekadar bangunan.
Ia adalah simbol dari sesuatu yang pernah kita tinggalkan.
Ketenangan.
Kejujuran.
Kepercayaan.
Atau mungkin Tuhan yang tetap menunggu bahkan ketika manusia terlalu sibuk untuk mengingat-Nya.
Nyanyian Surau menarik kita pada sebuah pertanyaan yang diam-diam menakutkan:
berapa jauh kita sudah berjalan dari diri sendiri?
Sebab sering kali, yang membuat manusia lelah bukan perjalanan menuju suatu tempat.
Melainkan perjalanan untuk menjadi seseorang yang sebenarnya tidak pernah ia inginkan.
Kita mengenakan banyak wajah agar diterima. Menyimpan banyak kata agar disukai. Mengejar banyak hal agar dianggap berhasil.
Lalu pada malam yang sunyi, ketika tak ada lagi yang perlu dibuat terkesan, kita kembali menjadi seseorang yang bertanya:
sebenarnya, aku sedang mencari apa?
Mungkin karena itu lagu ini terasa seperti doa yang dinyanyikan dengan suara yang hampir berbisik.
Ia tidak mengajak kita berlari.
Ia hanya meminta kita berhenti sebentar.
Mendengar.
Sebab di antara bising kendaraan, dering telepon, percakapan yang tak pernah selesai, dan dunia yang terus meminta kita menjadi lebih selalu ada suara kecil yang barangkali sudah lama kita abaikan.
Suara yang tidak meminta kita menjadi siapa-siapa.
Suara yang hanya berkata:
pulanglah.
Dan barangkali, pulang tidak selalu berarti kembali ke sebuah rumah.
Kadang pulang adalah ketika kita akhirnya berani duduk sendirian, menanggalkan segala pujian, segala kepura-puraan, segala nama yang kita bangun di hadapan dunia.
Lalu mengakui bahwa kita pernah tersesat.
Pernah jauh.
Pernah lupa.
Tetapi masih ingin menemukan jalan kembali.
Di sanalah Nyanyian Surau menjadi lebih dari sebuah lagu.
Ia seperti nyanyian dari sebuah ruang tua yang tetap menyala ketika dunia mulai terlalu terang.
Sebuah pengingat bahwa doa tidak selalu datang sebagai suara yang keras.
Kadang ia hadir sebagai sunyi.
Dan kadang, setelah bertahun-tahun kita mencari ke mana-mana, suara paling penting justru datang dari tempat yang paling sederhana:
sebuah surau,
sebuah malam,
dan hati yang akhirnya bersedia mendengarkan.
(Azm)

