Suarastra.com – Pada masa ketika waktu masih ditandai dari panjang bayangan tubuh dan senja menjadi batas sakral antara terang dan gelap, di sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai Jalan Pesut, berdirilah sebuah gunung kecil yang dahulu dianggap suci dan angker. Gunung itu bukan sembarang gunung, ia diyakini sebagai tempat bersemayamnya makhluk-makhluk gaib, dan dijaga oleh satu sosok yang namanya bergetar di antara bisik rakyat: Bahok.
Bahok, dalam tutur yang tersebar dari mulut ke mulut, adalah nama seekor anjing gaib. Namun, bukan anjing biasa. Tubuhnya besar, matanya merah menyala, bulunya hitam pekat bagaikan kabut malam, dan giginya tajam mengintai dari balik rahang yang selalu terbuka. Namun yang paling mengerikan darinya bukan bentuk, melainkan tabiatnya : ia sangat murka bila namanya disebut.
Konon, menyebut nama “Bahok” sembarangan di sekitar kawasan Jalan Pesut adalah pertanda celaka. Bukan karena ia akan menggonggong atau menggigit, tapi karena ia akan datang. Dan kedatangannya bukan hanya pertanda malapetaka, tetapi juga pembalasan. Ia mengira bahwa setiap seruan atas namanya adalah panggilan yang wajib dijawab. Maka siapapun yang tak sengaja menyebut nama itu saat senja, akan segera dihampiri oleh sesuatu yang tak tampak.
Penjaga Gunung yang Menjelma :
Namun Bahok bukanlah makhluk liar tanpa tuan. Dalam kisah-kisah tua, Bahok disebut sebagai penjelmaan dari seorang penjaga gunung, makhluk separuh kuda dan separuh manusia, bertubuh tegap dengan wajah tertutup rambut tebal. Dialah penunggu senja, makhluk yang mengatur batas waktu antara kerja dan istirahat.
Orang-orang tua menyebutnya dengan berbagai nama. Ada yang memanggilnya “Penunggang Senja”, ada pula yang menyebutnya hanya sebagai “Urang Penjaga”. Tapi siapa pun tahu bahwa di balik nama-nama itu, yang dimaksud adalah Bahok entah ia dalam wujud anjing atau manusia betubuh kuda.
Ia hanya muncul menjelang senja. Saat cahaya matahari mulai melembut, dan suara jangkrik menggantikan suara anak-anak. Pada waktu itulah, orang-orang tua mulai memanggil pulang anak-anak mereka, bukan karena takut gelap, melainkan karena takut Bahok.
Kisah Tentang Murka Senja :
Ada banyak cerita tentang orang yang melanggar waktu senja. Salah satu yang paling terkenal adalah tentang seorang anak lelaki bernama Yasin, yang terlalu asyik bermain layang-layang hingga lupa waktu. Ketika teman-temannya pulang, Yasin masih mengejar benang yang putus, tertawa dan berlari di atas rumput basah.
Ibunya, dari kejauhan, sudah memanggil-manggil dan sa,bil berkata “Awass ada bahok” !!
Tapi Yasin keras kepala. Ia malah berseru, “Aku tak takut Bahok! Mana Bahok? Bahok itu cuma cerita!”
Dan pada detik itu, angin tiba-tiba berhenti. Layang-layang jatuh. Dan suara jangkrik lenyap. Yasin berdiri mematung. Dari balik pohon, terdengar suara pelan, rendah, seperti geraman yang ditelan tanah: grrrr…
Yasin jatuh pingsan. Tubuhnya kaku, napasnya sesak. Ia dibawa pulang oleh orang-orang dewasa, namun malam itu ia terus mengigau, menyebut nama yang tak boleh disebut. Tiga malam tiga hari, ia menggeliat seperti dirundung mimpi buruk. Dan ketika akhirnya sadar dan kondisinya membaik, ia tak pernah lagi mau bermain di luar rumah selepas Ashar. Sejak itu, ia jadi anak yang tenang, pendiam, dan gemar membantu orang tua.
Orang bilang, itu bukan sekadar ketakutan, tapi bentuk penyerahan Bahok telah mengajarinya batas.
Kisah dari Penjual Kue :
Ada pula cerita tentang seorang ibu penjual kue keliling bernama Mak Intan. Suatu hari, karena dagangannya belum habis, ia nekat melanjutkan berjualan hingga senja. Suara adzan mulai berkumandang, namun Mak Intan tetap berjalan, berseru, “Kueh bolu! Kueh pisang! Murah, Bu! Murah, Dik!”
Seseorang menegur, “Mak, sudah senja. Awas ada Bahok.”
Tapi Mak Intan hanya tertawa. “Bahok? Bahok beli kue juga kah?”
Saat itu juga, angin meniup kuat. Keranjang kue Mak Intan terguling. Seluruh isinya berserakan. Di ujung gang, terlihat sesosok bayangan tinggi, bertubuh kuda, dengan mata merah menyala. Ia berdiri diam, hanya menatap.
Mak Intan berlari pulang sambil menangis. Sejak hari itu, ia berhenti menjual kue selepas Ashar. Katanya, “Untung hanya kueku yang jatuh. Kalau nyawaku?”
Antara Mitos dan Kenyataan :
Sebagian orang, terutama anak muda zaman sekarang, mulai melupakan kisah Bahok. Mereka menganggapnya hanya dongeng pengantar tidur, semacam cara orang tua menakut-nakuti anak agar pulang tepat waktu. Tapi siapa pun yang pernah tinggal lama di kawasan Jalan Pesut, tahu bahwa senja di sana bukan sembarang senja.
Tanda-tanda kehadiran Bahok masih sering dibicarakan:
- Suara gonggongan dari tempat yang tak ada anjingnya.
- Angin senja yang tiba-tiba berhenti.
- Bayangan panjang yang tidak sesuai dengan arah cahaya.
- Anak-anak yang mendadak demam dan mengigau menyebut nama yang tak boleh diucap.
Dan yang paling sering terjadi adalah sakit aneh yang datang tiba-tiba, hanya kepada mereka yang mengabaikan waktu senja. Dokter tak bisa menjelaskan, dan baru reda setelah keluarga mengadakan tolak bala.
Asal-Usul Bahok :
Menurut cerita yang dituturkan para tetua, Bahok dahulu adalah seekor anjing penjaga yang setia. Ia milik seorang penjaga gunung dari zaman kerajaan. Sang penjaga memiliki bentuk tubuh setengah kuda dan setengah manusia, dipercayai sebagai makhluk gaib yang ditugaskan menjaga batas dunia manusia dan dunia roh.
Bahok setia menemaninya selama ratusan tahun, menjaga kawasan gunung dari gangguan. Namun saat kerajaan mulai runtuh, dan manusia mulai melupakan batas-batas gaib, sang penjaga menghilang. Tapi Bahok tetap tinggal, menjadi penjaga terakhir, satu-satunya makhluk yang tak bisa mati karena tugasnya belum selesai.
Beberapa orang percaya bahwa sebenarnya Bahok dan penjaga itu adalah satu makhluk. Bahok adalah bentuk lain dari sang penjaga, wujudnya sebagai anjing adalah lambang kesetiaan, dan amarahnya adalah bentuk peringatan.
Kehadiran Bahok di Masa Kini :
Meskipun zaman berubah, jalan diperkeras, dan rumah-rumah dibangun lebih tinggi, aura di sekitar gunung kecil kawasan Jalan Pesut tetap terasa aneh. Banyak warga yang menghindari keluar rumah selepas maghrib, terutama anak-anak dan orang tua.
Sekolah-sekolah di sekitar kawasan itu bahkan secara tidak tertulis mengingatkan muridnya untuk tidak bermain terlalu lama. Guru-guru bercerita dengan hati-hati, menyelipkan kisah Bahok sebagai nasihat moral: “Jangan melanggar waktu, jangan melupakan adab.”
Bahkan ada satu keluarga yang sengaja menuliskan kalimat di dinding luar rumah mereka: “Jangan sebut namanya.” Hanya itu. Dan semua orang tahu siapa yang dimaksud.
Bahok : Penjaga, Bukan Pengganggu :
Meskipun ia ditakuti, Bahok bukanlah makhluk jahat. Ia hanyalah penjaga. Ia hanya marah jika dilupakan namun tak ingin pula jika nama nya terus di sebut. Ia hanya murka jika batas dilanggar. Ia bukan ingin menakut-nakuti, melainkan menjaga keseimbangan yang sudah lama rapuh karena kesombongan manusia.
Ia adalah pengingat bahwa senja bukan sekadar waktu, melainkan peralihan, saat ruh dan raga bertukar bisik. Dan di masa itu, diam adalah doa, pulang adalah keselamatan.
Di Balik Bayang Senja :
Kisah tentang Bahok bukan hanya legenda. Ia adalah warisan tutur, penanda zaman, dan cermin dari cara manusia menghargai batas. Kini, setiap kali senja turun di kawasan Jalan Pesut, dan bayangan mulai memanjang, orang-orang yang tahu akan mempercepat langkah. Menutup jendela. Memanggil anak-anak pulang.
Penutur : Kaik Yun
#Avisapranatungga

