Suarastra.com – Perubahan kondisi air Sungai Kedang Pahu di Kampung Lambing, Kecamatan Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat, memunculkan kekhawatiran warga. Air sungai yang biasanya dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari kini terlihat keruh kecokelatan. Bahkan, ketika disaring, tampak endapan berwarna kehitaman.
Kondisi tersebut menjadi persoalan bagi masyarakat, terutama di tengah kemarau berkepanjangan yang membuat sebagian warga masih bergantung pada aliran Sungai Kedang Pahu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Salah satu warga yang tak ingin disebutkan identitasnya, mengaku masih menggunakan air sungai untuk mandi, mencuci piring, hingga mencuci pakaian karena belum memasang layanan air bersih PDAM.
Namun, perubahan warna dan kondisi air membuatnya khawatir untuk tetap memanfaatkan sungai tersebut. Ia mengaku kebingungan mencari alternatif di tengah kebutuhan air sehari-hari.
“Bagaimana ya, airnya keruh betul. Kita juga jadi takut untuk mandi dengan air itu dan cuci piring pakai air itu,” terangnya, Rabu (04/11/26).
Ia menduga, perubahan kondisi air tersebut kemungkinan berkaitan dengan aktivitas perusahaan tambang batu bara di sekitar wilayah itu. Namun, dirinya juga tidak menutup kemungkinan adanya pengaruh material sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terbawa aliran air setelah hujan beberapa hari sebelumnya.
“Bisa jadi ada limbah, atau juga akibat hujan beberapa hari lalu membuat bekas kebakaran lahan, airnya menuju ke sungai,” ungkapnya.
Meski demikian, dugaan penyebab perubahan warna air tersebut belum dapat dipastikan. Diperlukan pemeriksaan kualitas air dan penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui sumber material yang menyebabkan Sungai Kedang Pahu tampak keruh dan kehitaman.
Bagi warga yang masih menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada sungai, kondisi ini bukan sekadar persoalan perubahan warna air, melainkan juga menyangkut keamanan sumber air yang mereka gunakan setiap hari.
(Oby/Mii)


