Suarastra.com – Tatkala ajal telah berdiri di ambang nyawa Dewi Amba, tiada dendam yang dibawanya, tiada pula benci yang ditinggalkannya. Hanya cinta yang tetap bersemayam di lubuk kalbunya, cinta kepada Bisma, sang kesatria yang dicintainya, namun terbelenggu oleh sumpah yang tiada dapat dipatahkannya.
Maka dengan sisa napas yang kian beranjak pergi, bertitahlah Dewi Amba kepada takdir,
“Wahai Bisma, ketahuilah olehmu, bahwa kasihku tiada akan turut terkubur bersama jasadku. Jika kehidupan ini tiada memperkenankan kita bersatu, niscaya pada kehidupan yang lain akan kucari dirimu kembali. Akan kunanti engkau di seberang waktu, hingga tiba saatnya tanganku menyambut tanganmu, lalu kita berjalan bersama menuju Nirwana, tempat segala derita dunia tiada lagi berkuasa.”
Demikianlah cinta Dewi Amba berangkat bersama ajal, meninggalkan janji yang terpatri melampaui batas kehidupan.
Maka berputarlah roda kelahiran. Dewi Amba menitis kembali dalam diri Srikandi, istri Arjuna, yang kelak berdiri di medan Bharatayudha sebagai bagian dari bala Pandawa. Sementara Bisma, demi sumpah dan dharmanya, tetap teguh membela Kurawa, meskipun di dalam dadanya tersimpan rahasia yang tiada mampu diungkapkan oleh lidah.
Hingga sampailah hari ketika Kurushetra menjadi saksi pertemuan dua jiwa yang pernah dipisahkan oleh takdir.
Di tengah gemuruh genderang perang, Srikandi mengangkat busurnya. Anak panah pun melesat menembus udara, menghujam tubuh Bisma yang telah lanjut usia. Namun, tiada perlawanan yang diberikannya. Tiada amarah yang dipancarkannya. Ia hanya tersenyum pasrah, seakan-akan kematian bukanlah musuh yang datang merenggut nyawa, melainkan seorang kekasih yang telah lama dinantikan.
Sebab, di balik wajah Srikandi yang berdiri di hadapannya, seolah-olah Bisma melihat kembali bayangan Dewi Amba—perempuan yang mencintainya dengan segenap jiwa, tetapi tak pernah dapat dimilikinya lantaran sumpah yang telah diikrarkannya sendiri.
Barangkali, pada detik itulah Bisma mengerti, bahwa ada janji yang tidak dapat dipadamkan oleh kematian, dan ada cinta yang tetap mencari jalan pulang, sekalipun harus menempuh beribu kelahiran.
Adapun petuah yang dapat dipetik daripada kisah ini,
“Sumpah yang diucapkan mengikat diri, tetapi cinta yang terpendam dapat mengikat jiwa sepanjang masa. Maka berhati-hatilah dalam memilih jalan hidup, karena terkadang sesuatu yang kita pertahankan demi kehormatan, justru menjadi sebab hati yang lain menanggung penderitaan.”
Demikianlah, kisah Dewi Amba dan Bisma menjadi cermin bagi insan yang hidup hingga ke zaman ini. Bukankah masih ada manusia yang berdiri di antara cinta dan kewajiban, antara kehendak hati dan janji yang telah diikrarkan? Masih ada kasih yang kandas bukan lantaran tiada cinta, melainkan karena keadaan, kehormatan, dan pilihan yang tiada mudah diubah.
Cinta memang laksana sekuntum bunga di taman kehidupan, harum semerbak tatkala mekar, namun dapat pula gugur sebelum sempat dipetik. Ia membawa bahagia, tetapi terkadang meninggalkan luka yang tiada berdarah. Ia menjanjikan pertemuan, tetapi tidak senantiasa mengizinkan kebersamaan.
Maka ingatlah, wahai anak cucu pewaris zaman, janganlah membiarkan sumpah menjadi belenggu yang membutakan mata daripada kebenaran, dan jangan pula menjadikan cinta sebagai alasan untuk mengingkari tanggung jawab. Sebab, dalam setiap pilihan, ada hati yang mungkin terluka, ada jiwa yang terpaksa mengalah, dan ada penyesalan yang barangkali baru menemukan suaranya tatkala segalanya telah terlambat.
Adakalanya dua insan ditakdirkan saling mencintai, tetapi tidak ditakdirkan saling memiliki. Dan adakalanya, perpisahan di dunia menjadi sebuah penantian panjang bagi jiwa yang percaya, bahwa kasih sejati tidak selalu berakhir pada kematian melainkan tinggal sebagai doa, menunggu jawaban di balik tabir keabadian.
Avisapranatungga

