Suarastra.com – Ada air yang jatuh ke daun talas, bening dan berkilau diterpa cahaya. Namun ia tidak menetap. Sedikit saja daun bergoyang, air itu mengalir ke tepi, lalu jatuh kembali ke tanah. Begitulah hati manusia.
Kadang nasihat datang, tetapi tidak tinggal. Petuah didengar, namun lekas dilupakan. Kata-kata kebaikan menyentuh telinga, tetapi belum tentu sampai ke dalam jiwa. Orang-orang tua dahulu menyebut keadaan itu dengan sebuah ungkapan sederhana,
“Bagai air di daun talas.”
Airnya ada, tetapi tidak meresap. Ia hanya singgah sebentar, kemudian pergi tanpa meninggalkan jejak. Dalam perjalanan menuju Tuhan, janganlah hati kita menjadi daun talas. Biarlah setiap nasihat yang baik meresap menjadi kesadaran, setiap pengalaman menjadi pelajaran, dan setiap kesalahan menjadi jalan untuk kembali memperbaiki diri. Sebab hidup bukan tentang berapa banyak petuah yang telah kita dengar, melainkan berapa banyak kebaikan yang tumbuh setelahnya.
Nasihat leluhur, Jangan hanya mendengar kebaikan dengan telinga. Simpanlah ia di dalam hati, lalu buktikan dengan perbuatan. Sebab ilmu yang tidak mengubah laku, hanyalah air yang singgah di daun talas.
Penulis : Avisapranatungga

