Suarastra.com – Kemarau datang dengan langkah yang panjang. Langit Kalimantan seperti menahan tangisnya. Awan menggantung jauh, namun hujan tak kunjung turun. Tanah perlahan merekah, daun-daun kehilangan hijau, dan di beberapa penjuru hutan, asap mulai mengambang di antara pepohonan. Api menjilat rimba!! Seakan ada luka lama yang kembali dibuka oleh musim.
Di sungai-sungai besar Kalimantan, air pun perlahan mundur dari tepian. Kapuas dan Barito mulai menyurut, meninggalkan bekas-bekas basah pada tanah yang sebentar lagi kering. Tepian yang dahulu dipeluk air, kini perlahan ditinggalkan.
Kalimantan seperti sedang menangis tanpa air mata
Tangis daun yang terbakar.
Tangis satwa yang kehilangan rumah.
Tangis tanah yang menunggu hujan.
Tangis hutan yang kehilangan teduhnya.
Dan tangis sungai yang perlahan kehilangan sebagian dari alirannya.
Namun, di tengah kesunyian itu, ada satu sungai yang masih setia berjalan.
Mahakam
Ia masih mengalir.
Seolah kemarau tidak pernah datang kepadanya.
Seolah ia menyimpan sesuatu yang tidak diketahui oleh manusia.
Mengapa?
Apa yang membuatnya tetap bertahan?
Dari mana ia menemukan kekuatan ketika sungai-sungai lain mulai menyusut?
Adakah rahasia yang disimpan jauh di dalam airnya?
Orang-orang tua dahulu mungkin hanya akan tersenyum mendengar pertanyaan itu. Sebab bagi mereka, sungai bukan sekadar air yang mengalir dari hulu menuju hilir. Sungai adalah sesuatu yang lebih tua daripada ingatan manusia. Ia mendengar suara perahu, menyimpan jejak perjalanan, membawa doa dari tepian, dan mengantarkan cerita dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Mahakam telah melihat banyak hal.
Ia telah menyaksikan manusia datang dan pergi.
Melihat kampung tumbuh di tepian.
Mendengar anak-anak tertawa di airnya.
Menyaksikan perahu-perahu membawa kehidupan.
Dan mungkin, diam-diam, ia juga menyaksikan hutan yang satu demi satu kehilangan hijaunya.
Barangkali Mahakam telah mengetahui sesuatu yang belum kita pahami. Barangkali ia tahu bahwa menangis tidak selalu harus dengan air mata.
Atau mungkin, setelah terlalu lama melihat manusia menangis di sepanjang tepian, Mahakam memilih untuk tidak ikut menangis. Ia memilih mengalir. Sebab jika ia berhenti, kehidupan akan ikut kehilangan jalannya. Barangkali, itulah rahasia Mahakam.
Ia tidak menangis karena airnya sendiri adalah air mata yang telah lama disimpannya. Setiap tetes membawa kesedihan hutan.
Setiap riak membawa bisikan leluhur.
Setiap gelombang kecil membawa doa orang-orang yang menggantungkan hidup kepadanya.
Dan selama hujan masih jatuh di hulu, selama akar-akar pohon masih mampu memeluk tanah, selama bumi masih diberi kesempatan menyimpan air, Mahakam akan terus mencari jalannya.
Namun,
Siapa yang benar-benar mengetahui rahasia sebuah sungai?
Barangkali suatu hari nanti, ketika hutan semakin kehilangan hijaunya dan sungai-sungai semakin kehilangan airnya, Mahakam pun akan berhenti sejenak.
Bukan karena ia lemah.
Tetapi mungkin karena ia ingin berbicara. Ia akan berdiri diam di hadapan manusia, lalu bertanya dengan suara yang hanya dapat didengar oleh hati,
“Masihkah kalian ingat siapa yang selama ini memberi kalian kehidupan?”
Entah kapan pertanyaan itu akan datang. Sebab sungai tidak pernah pandai mengancam.
Ia hanya mengalir.
Diam-diam memberi.
Diam-diam menghidupi.
Diam-diam menyimpan luka.
Dan mungkin, justru karena itulah manusia sering lupa bahwa sesuatu yang selalu memberi pun dapat kehilangan kekuatannya.
Ketika sungai berhenti mengalir, barulah manusia mungkin mengerti bahwa air bukan sekadar air. Namun dialah sumber kehidupan.
Maka janganlah kita menunggu Mahakam menangis.
Jagalah hutan sebelum ia menjadi bara.
Jagalah air sebelum ia menjadi kenangan.
Jagalah sungai sebelum suara alirannya hanya tinggal cerita.
Mungkin, rahasia terbesar Mahakam bukanlah tentang mengapa ia masih mengalir di tengah kemarau. Melainkan sebuah pertanyaan yang lebih sunyi,
“Berapa lama lagi Mahakam mampu mengalir, jika manusia terus lupa menjaganya?”
Dan mungkin…
Selama Mahakam masih mengalir, alam belum benar-benar menyerah kepada kita.
Ia masih memberi kita kesempatan untuk belajar mendengar.
(Caa)

