Suarastra.com – Malam di Amphiteater Taman Ladang Budaya (Ladaya) Tenggarong terasa berbeda, pada Senin (01/06/26). Kilauan cahaya lampu yang menyoroti pelakon teater yang bertajuk “Ibu Negara” itu berhasil memukau para penonton.
Di panggung terbuka itu, tak banyak properti yang digunakan. Hanya beberapa bingkai besar dan sebuah kursi goyang tua. Namun dari kesederhanaan itulah lahir pertunjukan yang berhasil memancing tawa, renungan, bahkan kegelisahan penonton.
Lakon produksi Yayasan Lanjong Indonesia tersebut mengangkat kritik sosial dan politik melalui pendekatan satire yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Naskah sekaligus penyutradaraan digarap oleh Ab Asmarandana.
Sepanjang pertunjukan, penonton disuguhi kisah tentang seorang Raja yang hidup di tengah pujian, pencitraan, dan kekuasaan. Sosok itu digambarkan berada di panggung besar bernama kekuasaan, sementara rakyat di sekitarnya bergulat dengan berbagai persoalan hidup.
Di balik dialog-dialog yang kerap memancing tawa, terselip sindiran tajam mengenai relasi antara pemimpin, citra, dan realitas yang dihadapi masyarakat.
Usai pertunjukan, Ab Asmarandana atau yang akrab disapa Kang Abuy mengatakan naskah tersebut lahir dari keresahan yang ia rasakan terhadap berbagai fenomena sosial yang terjadi saat ini.
“Dari kegelisahan-kegelisahan ini saya membuat kerangka. Dan ternyata, teman-teman di sini juga memiliki kegelisahan yang sama dengan apa yang saya rasakan,” ujarnya.
Menurut Abuy, konsep meta-teater sengaja dipilih agar penonton merasa lebih dekat dengan cerita yang dibawakan.
“Saya berpikir bagaimana cara merangkul penonton dengan teks yang telanjang, teks yang sudah biasa mereka baca. Jadi saya harus memberikan sentuhan di sana, sehingga dinding keempat tersebut dibobol dan karya ini komunikatif dengan penonton,” jelasnya.
Salah satu sorotan malam itu adalah penampilan Dedi Nala Arung yang memerankan tokoh Raja. Karakter tersebut menjadi pusat cerita sekaligus simbol kritik yang dibangun sepanjang pertunjukan.
Nala mengaku hanya memiliki waktu persiapan singkat untuk mendalami karakter tersebut. Ia mempelajari berbagai pidato, gestur, hingga cara berjalan tokoh yang menjadi referensi perannya.
“Raja ini memang didekatkan dengan tokoh presiden. Dari cara berjalannya, mengulang-ulang pidatonya, bagaimana dia bersalaman, bagaimana dia menghormati orang, semua saya amati selama lima hari dari cuplikan,” katanya.
Sepanjang pementasan, gelak tawa beberapa kali pecah ketika para pemain melontarkan dialog satir. Namun suasana berubah hening saat adegan-adegan reflektif mulai dimainkan.
Di situlah kekuatan lakon Ibu Negara terasa. Ia tidak sekadar menghibur, tetapi mengajak penonton melihat kembali berbagai realitas sosial yang selama ini dianggap biasa.
Tepuk tangan panjang menggema saat para pemain menutup pertunjukan. Antusiasme penonton yang bertahan hingga akhir menjadi bukti bahwa ruang seni pertunjukan masih memiliki tempat di hati masyarakat.
“Saya senang melihat apresiasi yang cukup besar malam ini, bahkan anak-anak sekolah bisa menyaksikan pentas hari ini. Mari kita ambil ini sebagai pembelajaran,” pungkas Nala.
Melalui Ibu Negara, panggung Ladaya malam itu bukan hanya menjadi ruang hiburan. Ia menjelma menjadi ruang percakapan, tempat kritik disampaikan lewat seni, dan tempat penonton diajak menertawakan sekaligus merenungkan wajah kehidupan yang mereka temui setiap hari.
(Oby/Mii)

