Suarastra.com – Ada masa ketika seseorang terlalu letih untuk menjelaskan perasaannya sendiri. Kalimat terasa terlalu panjang, percakapan terasa terlalu ramai, dan mulut hanya mampu mengatakan, “nggak apa-apa,” meski di dalam kepala banyak hal sedang runtuh diam-diam.
Di masa seperti itu, sebagian anak muda tidak mencari jawaban. Mereka mencari kalimat yang bisa mewakili rasa. Mereka mencari sesuatu yang mampu berkata, aku juga pernah berada di tempat itu. Dan entah bagaimana, banyak dari mereka menemukannya di lirik-lirik Hindia.
Bukan karena lagunya selalu bicara tentang patah hati. Bukan pula karena melodinya paling keras mengetuk telinga. Ada sesuatu yang lebih sunyi dari itu. Sesuatu yang membuat lirik-liriknya terasa seperti catatan harian seseorang yang tidak sengaja dibacakan dengan nada.
Di dunia yang bergerak terlalu cepat, anak muda tumbuh bersama daftar target yang semakin panjang. Ada impian yang harus dikejar sebelum usia tertentu, pencapaian yang diam-diam dibandingkan, juga rasa takut tertinggal yang datang tanpa diundang. Mereka dipaksa tampak baik-baik saja, bahkan ketika sedang kehilangan arah.
Mungkin itu sebabnya lirik Hindia terasa dekat. Ia tidak datang seperti seseorang yang berdiri di atas panggung lalu berkata bahwa hidup akan baik-baik saja. Ia lebih mirip teman yang duduk di sebelah, menatap jalanan malam, lalu berkata pelan bahwa menjadi lelah juga bagian dari menjadi manusia.
Di beberapa lagunya, ada kalimat-kalimat yang terasa seperti seseorang sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Dari Secukupnya, misalnya, ada potongan:
“kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang”
Kalimat itu tidak terdengar seperti nasihat. Ia terdengar seperti pertanyaan yang sederhana, tetapi diam-diam berat untuk dijawab.
Lalu pada Evaluasi, ada potongan pendek:
“yang tak bisa terobati”
Pendek, tetapi sering kali terasa seperti ada ruang kosong yang sedang disebut namanya. Sebab anak muda hari ini ternyata tidak selalu membutuhkan kalimat motivasi. Kadang mereka hanya ingin didengar. Hanya ingin ada yang mengakui bahwa hidup memang berat. Bahwa menjadi dewasa tidak selalu terlihat seperti orang-orang di media sosial.
Ada perbedaan antara kata-kata yang indah dan kata-kata yang jujur. Lirik yang terlalu sempurna sering kali terasa jauh. Sementara lirik yang memuat kegelisahan, kebingungan, dan kekacauan pikiran justru terasa seperti rumah.
Maka tidak mengherankan jika potongan lirik Hindia sering muncul di unggahan Instagram, status media sosial, atau dikirim diam-diam ke seseorang. Sebab bagi sebagian orang, membagikan lirik bukan sekadar menunjukkan lagu yang sedang didengar. Itu adalah cara paling aman untuk berkata, aku sedang capek, tanpa perlu menjelaskan terlalu banyak.
Anak muda sering kali pandai menyembunyikan lelahnya. Mereka masih tertawa di tongkrongan, masih mengunggah foto dengan senyum terbaik, masih menjawab “baik” ketika ditanya kabar. Namun di sela-sela itu, ada playlist yang diputar berulang kali. Ada lirik yang disimpan diam-diam. Ada kata-kata yang menjadi tempat pulang.
Barangkali karena pada akhirnya manusia selalu mencari cermin bagi perasaannya. Dan ketika dunia terlalu bising untuk memahami isi kepala, beberapa orang menemukannya dalam sepotong lagu bukan untuk menyelesaikan luka, melainkan untuk menemani berjalan bersamanya.
Sebab ada lelah yang tidak meminta disembuhkan. Ada lelah yang hanya ingin dipeluk oleh kata-kata.
(Azm/Oby)

