Suarastra.com – Kenaikan harga kedelai mungkin terdengar seperti isu biasa di tengah riuhnya kabar ekonomi global. Angkanya naik, grafik bergerak, lalu berlalu begitu saja di layar gawai. Namun di dapur-dapur sederhana, di tungku-tungku kecil milik perajin tahu dan tempe, lonjakan itu menjelma kegelisahan yang nyata.
Tempe dan tahu bukan sekadar lauk. Ia adalah penopang gizi harian, makanan lintas kelas yang hadir dari meja rakyat kecil hingga restoran kota. Ketika harga kedelai naik, yang terguncang bukan hanya pasar, tetapi juga keseharian masyarakat.
Beberapa bulan terakhir, harga kedelai terus merangkak naik. Para pelaku usaha kecil tak punya banyak pilihan. Sebagian terpaksa menaikkan harga jual, sebagian lain memilih mengecilkan ukuran, bahkan ada yang mengurangi produksi agar tetap bertahan.
Di sisi lain, konsumen ikut merasakan dampaknya. Tempe yang dulu tebal kini menipis, tahu yang biasa memenuhi piring kini mulai terasa mahal. Perlahan, daya beli diuji, dan ruang dapur rakyat semakin menyempit.
Jika ditarik lebih jauh, fenomena ini hanyalah permukaan dari persoalan yang lebih dalam, seperti gunung es yang menyimpan lapisan besar di bawahnya.
Indonesia hingga kini masih sangat bergantung pada impor kedelai. Sebagian besar pasokan datang dari luar negeri, terutama dari Amerika Serikat (AS). Ketergantungan ini membuat harga dalam negeri rentan terhadap gejolak global.
Konflik geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina hingga ketegangan di Timur Tengah memang memberi andil dalam terganggunya rantai pasok global. Distribusi tersendat, biaya logistik meningkat, dan harga komoditas ikut terdorong naik.
Namun menyederhanakan persoalan hanya pada perang adalah cara pandang yang terlalu sempit.
Ada faktor lain yang tak kalah kuat, cuaca ekstrem di negara produsen yang menurunkan hasil panen, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, hingga tingginya permintaan global yang terus menekan pasokan. Semua itu saling bertaut, membentuk simpul masalah yang kompleks.
Di tengah kondisi ini, pelaku UMKM menjadi pihak yang paling rentan. Mereka berada di garis depan, menanggung langsung tekanan biaya tanpa banyak perlindungan. Sementara itu, konsumen berada di ujung rantai, menerima dampak dalam bentuk harga yang kian tinggi.
Jika kondisi ini terus berlarut, bukan tidak mungkin usaha kecil satu per satu akan goyah. Lebih jauh lagi, akses masyarakat terhadap pangan murah dan bergizi bisa semakin terbatas.
Dengan demikian, ketergantungan impor yang terus berlangsung adalah akar persoalan yang perlu segera dibenahi. Selama kebutuhan dalam negeri masih ditopang pasokan luar, gejolak global akan selalu menjadi bayang-bayang yang sulit dihindari.
Penguatan produksi kedelai lokal menjadi langkah yang tak bisa ditunda. Dukungan terhadap petani, stabilitas harga di tingkat hulu, serta kebijakan yang berpihak pada kemandirian pangan harus menjadi prioritas.
Sebab pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya stabilitas pasar, tetapi juga ketahanan hidup masyarakat. Dan, di setiap potong tempe yang kian menipis, kita diingatkan bahwa persoalan besar sering kali bersembunyi dalam hal-hal yang paling sederhana.
(Oby)

