Suarastra.com – Kepala Desa (Kades) Rapak Lambur, Muhammad Yusuf menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), yang telah menyalurkan bantuan beras dan benih padi kepada masyarakat terdampak gagal panen akibat banjir.
“Saya ucapkan kepada Bapak Bupati karena memang saat ini petani kami sangat membutuhkan bantuan khususnya adalah beras dan benih padi. Karena memang di saat memang warga ini tidak ada panen mereka tidak ada hasil yang untuk menjadikan mereka untuk konsumsi sehari-hari,” terang Yusuf saaat diwawancarai awak media di Desa Rapak Lambur, pada Rabu (08/04/26).
Pemberian bantuan beras tersebut yang disalurkan oleh pemerintah daerah berupa bantuan beras dan benih padi. Adapun beras yang di berikan sebanyak 1.084 karung, dengan jumlahnya 9.756 kilogram. Sedangkan untuk benih padi sendiri sebanyak 1.250 kilogram.
Yusuf menceritakan, kondisi banjir di Desa Rapak Lambur bukan hal baru bagi masyarakat. Namun, intensitas banjir dalam beberapa waktu terakhir dinilai semakin meningkat dan berdampak besar pada sektor pertanian.
Menurutnya, ketinggian air saat banjir bisa mencapai 50 hingga 80 sentimeter. Bahkan, dalam satu malam, ratusan hektare lahan sawah dapat terendam akibat luapan Sungai Mahakam.
“Kalau air pasang dari Mahakam, itu bisa langsung masuk ke desa. Sekitar 500 hektare sawah bisa terendam dalam satu malam,” jelasnya.
Ia menambahkan, banjir yang terjadi saat ini tidak lagi bersifat musiman. Curah hujan tinggi di wilayah hulu menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan air sungai meluap ke kawasan pertanian warga.
“Sekarang banjir tidak menentu. Kalau curah hujan tinggi di hulu, pasti air naik dan masuk ke Rapak Lambur,” katanya.
Lebih lanjut, Ia juga mengungkapkan, bahwa banjir dapat bertahan cukup lama, bahkan hingga empat sampai lima bulan. Hal ini disebabkan posisi lahan pertanian yang lebih rendah dibandingkan permukaan Sungai Mahakam, sehingga air sulit surut dengan cepat.
“Banjir bisa bertahan sampai empat bulan karena turunnya lambat. Meskipun sudah ada normalisasi dan irigasi, tapi tetap saja air bertahan lama,” ungkapnya.
Meski demikian, dirinya menyinggung pembangunan yang di bangun pemerintah melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar yaitu tiga pintu air pada 2025. Namun, upaya tersebut masih perlu ditingkatkan agar lebih optimal.
“Kami berharap ke depan ada peninggian tanggul, supaya luapan Sungai Mahakam tidak lagi masuk ke area persawahan,” harap Yusuf.
(Oby/Mii)

