Suarastra.com – Industri gim global kembali menghadapi dinamika baru. Sony Interactive Entertainment resmi mengumumkan kenaikan harga untuk sejumlah perangkat andalannya, termasuk PlayStation 5 (PS5), PS5 Pro, hingga PlayStation Portal yang mulai berlaku pada 2 April 2026.
Kebijakan ini disampaikan langsung oleh Vice President Global Marketing Sony Interactive Entertainment, Isabelle Tomatis. Ia menyebut langkah tersebut sebagai respons terhadap tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.
Kenaikan harga ini diterapkan secara global, namun dengan nominal yang berbeda di setiap negara, menyesuaikan kondisi ekonomi dan nilai tukar mata uang setempat.
Di Amerika Serikat, harga PS5 kini dibanderol sekitar 649,99 dolar AS atau setara Rp11 juta. Sementara versi digital dijual sekitar Rp10,2 juta, dan PS5 Pro mencapai Rp15,3 juta.
Di Inggris, harga PS5 berada di kisaran Rp12,2 juta, sedangkan PS5 Digital Edition sekitar Rp11,2 juta, dan PS5 Pro menyentuh Rp17 juta.
Untuk wilayah Eropa, PS5 dijual sekitar Rp12 juta, versi digital Rp11,1 juta, dan PS5 Pro mencapai Rp16,6 juta. Sementara di Jepang, harga PS5 berada di kisaran Rp10,7 juta, versi digital Rp9,9 juta, dan PS5 Pro sekitar Rp15,1 juta.
Sony menegaskan bahwa kebijakan ini tetap bersifat fleksibel untuk pasar lain. Artinya, harga di setiap wilayah bisa berbeda tergantung kondisi ekonomi lokal, pajak, serta biaya distribusi.
Langkah ini dinilai sebagai strategi adaptif perusahaan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global, sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis tanpa mengorbankan kualitas produk.
Di sisi lain, kenaikan harga ini diperkirakan akan berdampak pada daya beli konsumen, terutama di negara berkembang. Meski demikian, Sony tetap optimistis minat terhadap konsol generasi terbaru akan tetap tinggi.
Dengan terus mengedepankan inovasi dan pengalaman bermain, perusahaan berharap para gamer masih melihat nilai lebih dari produk yang ditawarkan.
Kebijakan ini juga berpotensi menjadi acuan bagi industri teknologi lainnya dalam menyesuaikan strategi harga di tengah kondisi ekonomi global yang terus berubah.
(*/Oby/Mii)

