Suarastra.com – Upaya menekan angka pengangguran dan kemiskinan terus didorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar). Salah satunya melalui program pelatihan kerja berbasis kebutuhan industri yang kini mulai menunjukkan hasil.
Sebanyak 13 peserta pelatihan welder atau juru las resmi dilepas dan diwisuda setelah menyelesaikan pelatihan bekerja sama dengan SKK Migas. Pelepasan dilakukan langsung oleh Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kukar, Dendy Irwan Fahriza, menyebut para peserta merupakan putra daerah yang berasal dari berbagai kecamatan di Kukar.
“Dari 13 orang tersebut, terdiri dari Muara Jawa 1 orang, Anggana 2 orang, Kota Bangun Darat 1 orang, Muara Badak 4 orang, Marangkayu 2 orang, Loa Kulu 1 orang, Sanga-Sanga 1 orang, dan Loa Janan 1 orang,” ujarny, pada Sabtu (04/04/26).
Ia menjelaskan, peserta dipilih berdasarkan data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) yang diselaraskan dengan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), khususnya pada kelompok desil 1 hingga 5.
Program ini tidak hanya berhenti pada pelatihan. Dendy memastikan peserta juga diarahkan untuk langsung terserap ke dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
“Dari 13 orang ini, lima orang sudah dipastikan bekerja di perusahaan steel di Batam, tiga orang bekerja di Kukar, dan lima lainnya masih dalam proses seleksi,” jelasnya.
Menurutnya, hilirisasi program menjadi fokus utama. Setiap peserta tidak hanya dilatih dengan biaya besar hingga mencapai sekitar Rp130 juta per orang untuk sertifikasi welder 4G, tetapi juga dipastikan memiliki peluang kerja.
“Tujuan utama program Kukar Siap Kerja ini adalah mengentaskan kemiskinan. Salah satu caranya dengan membuka ruang dan kesempatan kerja seluas-luasnya,” tegasnya.
Lebih jauh, Dendy juga menceritakan, bahwa program pelatihan di Batam ini telah memasuki angkatan ketiga, setelah sebelumnya diikuti 20 peserta pada angkatan pertama dan 19 peserta pada angkatan kedua.
Namun, dalam pelaksanaannya, terdapat sejumlah tantangan. Pada angkatan ketiga, beberapa peserta terpaksa mengundurkan diri karena tidak mendapat izin dari orang tua, mengingat durasi pelatihan mencapai sekitar tiga setengah bulan di luar daerah.
Selain itu, hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa tidak semua lulusan bekerja sesuai bidang keahlian. Dari sekitar 39 peserta pada angkatan sebelumnya, terdapat delapan orang yang justru bekerja di sektor lain.
“Ada yang bekerja sebagai sales, SPG, atau di bidang marketing perbankan. Ini menjadi bahan evaluasi kami,” ungkap Dendy.
Ia menilai, pekerjaan sebagai welder memiliki tingkat kesulitan tersendiri, termasuk kondisi kerja yang berat, sehingga perlu penyesuaian dari peserta. Dan, kedepannya, dari Disnakertrans sendiri berencana memperluas kerja sama dengan berbagai perusahaan untuk menyesuaikan pelatihan dengan kebutuhan industri.
“Kita ingin pelatihan berbasis kebutuhan. Jadi sejak awal kita lihat kebutuhan tenaga kerja, lalu kita siapkan pelatihannya,” katanya.
Selain itu, jika pelatihan didanai melalui program CSR perusahaan, pihaknya juga akan memastikan adanya komitmen penyerapan tenaga kerja dari perusahaan terkait.
“Harapannya bukan hanya 13 orang, tetapi semakin banyak anak-anak Kukar yang mendapat kesempatan kerja ke depan,” pungkas Dendy.
(Oby/Mii)

