Suarastra.com – Jusuf Hamka mendorong agar kesultanan di Kalimantan Timur (Kaltim) turut memperoleh manfaat dari pengelolaan kekayaan alam daerah. Ia menilai, kesultanan yang memiliki peran penting dalam sejarah dan perjalanan daerah tidak seharusnya hanya menjadi penonton di tengah besarnya aktivitas pertambangan.
Hal tersebut disampaikannya saat bersilaturahmi dan mengunjungi Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Selasa (03/11/26). Dalam kunjungan itu, ia mengaku memiliki kedekatan dengan Kaltim karena memiliki akar keluarga dari wilayah Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat (Kubar)
“Sebagai putra Kalimantan Timur, saya harus sowan kepada Sultan dan Pangeran. Bagaimanapun, cikal bakal saya dari dulu di Kecamatan Damai. Bahkan, saya pernah ke Long Iram, Tering, dan Kelian,” ujar pria yang akrab disapa Babah Alun.
Babah Alun mengatakan, kemajuan Kaltim seharusnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat dan unsur yang memiliki keterikatan sejarah dengan daerah tersebut. Ia menyoroti aktivitas ribuan tongkang pengangkut hasil sumber daya alam yang melintasi Sungai Mahakam.
Namun, menurutnya, besarnya aktivitas ekonomi tersebut belum sepenuhnya memberikan manfaat kepada Kesultanan Kutai Kartanegara. Ia mengaku mendapat penjelasan bahwa kesultanan belum memiliki keterlibatan langsung dalam pengelolaan pertambangan.
“Kami selalu berpikir Kaltim ini harus lebih maju dari sebelumnya dan harusnya maju lebih dari daerah-daerah lain. Hari-hari kami melihat ribuan tongkang di Sungai Mahakam. Lalu kami tanyakan kepada Pangeran dan Sultan, apakah Kesultanan ada tambang atau apa? Beliau menjawab, ‘Kami hanya jadi penonton’,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung, sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara yang disebutnya telah memberikan kontribusi dalam perjalanan bergabungnya wilayah kesultanan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurutnya, peran sejarah tersebut perlu menjadi perhatian dalam upaya pemerataan manfaat pembangunan.
Babah Alun berharap, pemerintah dapat memberikan ruang lebih besar bagi kesultanan untuk ikut memperoleh manfaat dari pengelolaan sumber daya alam, sebagaimana kesempatan yang telah diberikan kepada sejumlah organisasi kemasyarakatan keagamaan.
“Ya, mudah-mudahan selain melestarikan adat dan budaya serta kesultanan yang ada di Kalimantan Timur atau di daerah-daerah lain, kalau ada pertambangan, lebih perhatikanlah kesultanan-kesultanan itu juga. Jangan jadi penonton saja, tetapi juga bisa ikut menerima manfaatnya,” katanya.
Terakhir, Babah Alun mengungkapkan, masyarakat dan putra daerah juga perlu mendapatkan kesempatan dalam pengelolaan potensi ekonomi di wilayahnya. Ia berharap pemerataan kesejahteraan menjadi perhatian pemerintah pusat, termasuk melalui kebijakan yang memberikan peluang bagi daerah dan kesultanan.
“Sudah saatnya, karena saya yakin Bapak Presiden Prabowo selalu memperhatikan kesejahteraan rakyatnya dan beliau mau memberikan pemerataan,” tuturnya.
(Hen/Mii)

