Suarastra.com – Sungai Mahakam kembali kehilangan salah satu penghuninya. Seekor Pesut Mahakam ditemukan dalam kondisi mati mengapung di perairan Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), pada Selasa (05/05/26) lalu.
Peristiwa itu kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan populasi pesut, mamalia air tawar endemik Kalimantan Timur yang kini jumlahnya semakin terbatas.
Sesaat setelah laporan diterima, tim gabungan dari Yayasan Konservasi RASI, Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pela, serta Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Samarinda bergerak melakukan evakuasi.
Proses pemeriksaan tubuh pesut juga dilakukan melalui nekropsi guna mengetahui kondisi organ dalam dan kemungkinan penyebab kematian satwa tersebut.
Founder Yayasan Konservasi RASI, Danielle Kreb, mengatakan pesut yang ditemukan mati diketahui bernama “Lion”, seekor pesut jantan yang telah lama masuk dalam pemantauan konservasi di Sungai Mahakam.
“Lion memiliki panjang sekitar 2,35 meter dengan berat mencapai 152 kilogram. Kondisi giginya juga sudah aus yang mengindikasikan usia tua,” ujarnya saat dikonfirmasi awak media, pada Kamis (07/05/26).
Ia menjelaskan, Lion telah dikenali sejak tahun 1999 dan menjadi salah satu individu pesut yang cukup lama bertahan di perairan Mahakam.
Meski kondisi fisiknya menunjukkan tanda-tanda usia lanjut, penyebab kematian pesut tersebut masih belum dapat dipastikan. Tim konservasi saat ini masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan faktor yang menyebabkan kematian.
Kematian Lion menjadi kehilangan tersendiri bagi upaya konservasi Pesut Mahakam yang selama ini terus dilakukan berbagai pihak. Di tengah tekanan terhadap habitat sungai, populasi pesut disebut terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Satwa langka ini selama ini hidup berdampingan dengan aktivitas masyarakat di Sungai Mahakam. Namun perubahan lingkungan, lalu lintas sungai, hingga ancaman terhadap habitat alami menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan hidup mereka.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberadaan Pesut Mahakam bukan sekadar simbol satwa endemik Kalimantan Timur, tetapi juga bagian penting dari keseimbangan ekosistem Sungai Mahakam yang perlu dijaga bersama.
(Oby/Mii)

