Suarastra.com – Pada masa lampau, sebelum Pulau Kumala diubah menjadi destinasi wisata, Tenggarong masih hidup dalam ketenangan dan kesederhanaan. Sekitar tahun 80-an hingga 90-an, kota kecil ini tidaklah seramai sekarang. Kehidupan di sana berputar dengan damai. Di sepanjang tepian Sungai Mahakam, rumah-rumah berjajar rapi, dibangun dari kayu dengan atap sirap yang berkilau terkena sinar matahari. Malam hari pun terasa begitu sunyi, hanya diiringi gemericik air sungai dan sesekali suara burung malam.
Pulau Kumala, yang kini dikenal sebagai objek wisata, dahulu hanyalah sebidang tanah berhutan lebat tanpa penghuni. Ketika malam tiba, suasana di sekitarnya berubah. Lampu-lampu kota Tenggarong yang masih jarang, hanya memancarkan cahaya temaram di kejauhan, sementara pulau itu tampak gelap dan mencekam, seolah menyembunyikan rahasia tua yang tak terungkap. Pada saat itulah, masyarakat sering mendengar kisah tentang Bota, makhluk gaib penunggu pulau tersebut, yang muncul hanya dalam gelap pekat ketika bulan tak menampakkan dirinya.
Titik Cahaya Misterius
Pada malam-malam tertentu, penduduk yang tinggal di pinggiran sungai kerap melihat sesuatu yang aneh. Dari arah Pulau Kumala, muncul titik cahaya terang, seakan lampu lentera yang melayang di udara. Cahaya itu tidak diam di satu tempat. Kadang-kadang ia terlihat melayang perlahan dari atas langit, menyerupai bola api yang jatuh dan bergulir di atas air. Di lain waktu, cahaya tersebut tampak meloncat-loncat di antara pepohonan pulau. Kehadirannya begitu misterius dan tidak pernah bisa dijelaskan dengan akal sehat.
Orang-orang desa mulai menyebut cahaya itu sebagai Hantu Bota Bota adalah makhluk gaib yang memiliki cahaya sekuat lampu stormking lampu minyak yang populer pada masa itu. Jika Bota turun dari langit, ia terlihat seperti lentera yang melayang. Namun, jika ia muncul dari bawah, ia menjelma bola api menyala yang menggelinding dengan cepat. Beberapa orang yang pernah melihatnya dari dekat berkata bahwa bola api itu mengeluarkan suara mendesis seperti angin.
Makhluk Pemburu di Tepian Sungai
Menurut legenda, Bota bukan hanya sekadar cahaya misterius. Ia memiliki nafsu untuk mencari makan di malam hari. Makhluk ini konon suka berburu ikan kecil yang berenang di tepian Sungai Mahakam. Saat malam benar-benar gelap dan tak ada cahaya bulan, Bota muncul dari kedalaman sungai atau turun dari pepohonan di pulau. Orang-orang percaya bahwa setiap kali ia keluar, ikan-ikan akan bergerak resah dan berlarian menjauh dari tepi sungai.
Namun, legenda ini tidak selalu menenangkan hati. Ada juga cerita yang lebih menyeramkan. Jika Bota muncul dari arah tertentu misalnya dari utara atau timur laut ia dipercaya membawa niat jahat. Beberapa warga meyakini bahwa makhluk ini bisa mencelakai siapa pun yang kebetulan melihatnya secara langsung. Orang-orang tua di kampung sering memperingatkan anak-anak agar tidak berada terlalu lama di pinggir sungai setelah senja.
“Jika kau melihat cahaya itu,” kata mereka.
“Jangan pernah menatapnya lama-lama atau mengikuti ke mana ia pergi. Ia akan membawamu ke dalam gelap dan kau tak akan pernah kembali.”
Menghilangnya Hantu Bota
Seiring berjalannya waktu, Tenggarong berubah. Pembangunan mulai berkembang, dan tepian Sungai Mahakam yang dulunya penuh dengan rumah-rumah kayu perlahan-lahan berganti menjadi jalan raya dan bangunan modern. Pulau Kumala, yang tadinya dianggap angker dan tak terjamah, akhirnya dibuka untuk dijadikan kawasan wisata. Pohon-pohon lebat ditebang, jalan setapak dibangun, dan jembatan gantung dibangun untuk menghubungkan pulau dengan daratan utama.
Sejak saat itu, cahaya misterius yang dulu sering muncul di malam hari tak lagi terlihat. Bota, si penunggu Pulau Kumala, seakan menghilang bersama dengan hutan lebat yang digantikan oleh taman dan fasilitas wisata. Penduduk mulai bertanya-tanya, ke manakah perginya makhluk gaib itu? Apakah ia pindah ke dalam hutan belantara yang lebih jauh di sepanjang tepian Sungai Mahakam? Ataukah ia benar-benar lenyap karena terusiknya tempat tinggalnya oleh tangan manusia?
Meskipun Hantu Bota tak lagi terlihat, masyarakat Tenggarong masih menyimpan rasa hormat dan ketakutan akan legenda tersebut. Banyak yang percaya bahwa makhluk gaib seperti Bota tidak benar-benar hilang; mereka hanya bersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk kembali. Beberapa nelayan yang masih melaut hingga malam mengaku bahwa mereka kadang-kadang mendengar suara-suara aneh dari arah pulau. Suara itu seperti desisan angin, disertai gemericik air, seolah Bota masih mengintai dari kejauhan.
Cerita yang Tak Terlupakan
Kisah Bota kini telah menjadi bagian dari cerita rakyat yang diwariskan secara lisan. Meskipun generasi muda mungkin lebih akrab dengan Pulau Kumala sebagai tempat wisata yang menyenangkan, orang-orang tua masih menceritakan legenda ini sebagai pengingat tentang masa lalu Tenggarong. Cerita ini bukan hanya tentang makhluk gaib, tetapi juga tentang perubahan zaman dan bagaimana alam sering kali tersisih oleh perkembangan manusia.
Bagi mereka yang percaya, Bota bukanlah sekadar hantu atau mitos, melainkan simbol dari sesuatu yang lebih dalam sebuah peringatan agar manusia selalu menghormati alam dan tak merusaknya sembarangan. Pulau Kumala, meskipun kini telah berubah wujud, menyimpan jejak-jejak kisah gaib dan misteri yang tak akan pernah hilang sepenuhnya.
Sebagian orang di Tenggarong masih menyimpan harapan bahwa pada suatu malam, ketika bulan menghilang dari langit dan kota terlelap dalam keheningan, Bota akan kembali. Mungkin ia akan muncul lagi, menggelinding seperti bola api, atau melayang di antara pepohonan, mengingatkan semua orang bahwa alam memiliki caranya sendiri untuk menjaga keseimbangan.
Pelajaran dari Bota
Legenda Bota dari Pulau Kumala bukan hanya menjadi bagian dari cerita rakyat Tenggarong, tetapi juga cerminan dari hubungan manusia dengan alam. Di balik cerita tentang makhluk gaib yang misterius, tersembunyi pesan penting bahwa setiap perubahan yang dilakukan manusia terhadap alam akan meninggalkan jejak, baik terlihat maupun tak terlihat. Kehilangan sosok Bota mungkin menandakan bahwa sesuatu yang kuno telah berakhir, namun juga mengingatkan bahwa alam dan segala misterinya selalu ada di sekitar kita, meskipun tersembunyi di balik hiruk-pikuk kehidupan modern.
Cerita ini akan terus hidup, diceritakan dari generasi ke generasi, sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Tenggarong. Setiap kali seseorang mengunjungi Pulau Kumala dan merasakan hembusan angin malam di tepi Sungai Mahakam, mereka akan diingatkan bahwa di tempat itu, pernah ada makhluk gaib bernama Bota, yang menjaga alam dengan caranya sendiri.
Penutur : Nek Hetna
Penulis : Avisapranatungga

