Suarastra.com – Ada kalanya hidup membawa kita melawan arus, kita mendayung dengan tenaga yang tersisa, menahan lelah, sementara tepian terasa begitu jauh di hadapan mata. Pada saat seperti itu, kita sering bertanya, mengapa jalan ini harus begitu berat?
Namun, bukankah sungai mengajarkan kepada kita tentang kesabaran?
Air tidak pernah tergesa-gesa menuju muara. Ia mengalir, melewati batu, berbelok di tikungan, kadang tenang, kadang deras. Tetapi ia tetap berjalan, seolah percaya bahwa setiap aliran memiliki tujuan. Begitu pula manusia.
Ada kesusahan yang datang bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menguatkan. Ada kegagalan yang bukan akhir dari perjalanan, melainkan cara kehidupan mengajarkan kita untuk lebih rendah hati. Dan ada penantian panjang, yang diam-diam sedang mempersiapkan hati untuk menerima sesuatu yang lebih baik. Leluhur dahulu menitipkan petuah sederhana yaituu,
“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.”
Pendek kalimatnya, tetapi dalam maknanya. Bahwa tidak semua perjalanan harus dimulai dengan kemudahan, dan tidak setiap langkah yang berat berarti kita sedang berada di jalan yang salah. Dalam perjalanan batin, jangan buru-buru mengutuk arus yang membawa kita jauh dari kenyamanan. Bisa jadi, di sanalah Tuhan sedang mengajarkan sabar, ikhlas, dan percaya.
Sebab kebahagiaan bukan selalu tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi tentang seberapa dalam kita belajar selama perjalanan.
Maka jika hari ini terasa berat, jangan langsung menyerah. Dayunglah perlahan. Istirahatlah ketika lelah. Berdoalah ketika hati mulai goyah. Lalu lanjutkan perjalanan.
Jangan takut pada perjalanan yang sulit, selama niat tetap baik, langkah tetap dijaga, dan hati tetap berserah kepada Tuhan, kesusahan pun dapat berubah menjadi jalan menuju kebijaksanaan. Karena terkadang, Tuhan tidak segera mengubah keadaan kita. Ia terlebih dahulu mengubah hati kita, agar ketika sampai di tepian, kita bukan hanya menemukan kebahagiaan, tetapi juga menjadi manusia yang pantas menerimanya.
#Avisapranatungga
(Caa/Mii)

