Suarastra.com – Ada masa ketika sejarah belum menjadi buku. Ia masih berupa suara yang mengalir bersama sungai, jejak kaki di tanah, doa yang dipanjatkan di bawah langit, dan nama-nama yang kelak diabadikan pada sebuah batu. Di hulu Sungai Mahakam, di wilayah Muara Kaman, jejak itu pernah tumbuh menjadi sebuah kerajaan yang kini dikenang sebagai salah satu kerajaan tertua di Nusantara : Kerajaan Kutai Martadipura.
Diperkirakan berdiri sekitar abad ke-5 Masehi atau sekitar tahun 400 M, kerajaan bercorak Hindu tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan awal peradaban di Kalimantan Timur.
Namun Kutai bukan sekadar cerita tentang raja dan kekuasaan. Di balik prasasti dan nama-nama yang diwariskan zaman, tersimpan kisah tentang perjumpaan manusia dengan kebudayaan, tentang perubahan keyakinan, dan tentang bagaimana sebuah masyarakat menemukan bentuk baru tanpa sepenuhnya kehilangan akar leluhurnya.
Saat Peran Batu Menjadi Ingatan
Sejarah Kutai dikenal antara lain melalui Prasasti Yupa, peninggalan berbentuk tiang batu yang menjadi salah satu sumber utama mengenai keberadaan kerajaan tersebut. Batu-batu itu diam. Namun diam bukan berarti tidak berbicara.
Pada permukaannya, nama-nama dari masa lalu tetap bertahan ketika generasi telah berganti berkali-kali. Salah satu nama yang terukir adalah Kudungga. Dalam Ekspedisi Kudungga yang disusun oleh Total E&P Indonesie, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, dan Tempo Institute, Kudungga disebut sebagai raja pertama Kerajaan Kutai.
Nama itu menarik perhatian karena berbeda dari nama para penerusnya. Jika kemudian muncul nama Aswawarman dan Mulawarman yang menunjukkan kuatnya pengaruh kebudayaan India, Kudungga justru diyakini oleh sejumlah ahli sebagai nama asli yang belum banyak dipengaruhi unsur India. Seolah-olah sejarah sedang menyampaikan pesan sederhana : sebelum menerima pengaruh dari luar, sebuah peradaban telah lebih dahulu memiliki akar di tanahnya sendiri.
Kudungga : Dari Kepala Suku Menuju Takhta
Tidak semua raja dilahirkan dengan mahkota. Ada yang memulai perjalanan sebagai manusia biasa yang dipercaya oleh masyarakatnya. Kudungga diperkirakan sebelumnya merupakan seorang kepala suku. Dalam salah satu penafsiran sejarah, ia kemudian mendapat pengaruh ajaran Hindu yang mulai masuk ke wilayah tersebut.
Perjumpaan itu Membawa Perubahan
Struktur kehidupan masyarakat perlahan berkembang menuju bentuk pemerintahan kerajaan. Kudungga kemudian tampil sebagai pemimpin dan mendirikan kerajaan di wilayah Kalimantan. Kekuasaan tersebut selanjutnya diwariskan kepada keturunannya. Di sinilah kita mengenal Aswawarman dan kemudian Mulawarman.
Pada masa Mulawarman, Kerajaan Kutai dikenal mengalami perkembangan penting. Prasasti Yupa mencatat berbagai hal mengenai kehidupan kerajaan dan kegiatan keagamaan yang menunjukkan kuatnya pengaruh Hindu.
Tetapi sejarah tidak pernah hanya berbicara tentang perubahan kekuasaan. Ia juga berbicara tentang bagaimana manusia belajar beradaptasi dengan zaman.
Sungai Mahakam dan Jalan Perjumpaan
Jika hari ini generasi muda mengenal internet sebagai jembatan yang menghubungkan dunia, masyarakat masa lampau memiliki sungai dan laut. Sungai Mahakam bukan hanya aliran air, namun ia umpama jalan. Jalan yang mempertemukan manusia, barang, bahasa, gagasan, dan kebudayaan.
Kerajaan Kutai diperkirakan memiliki hubungan perdagangan dengan India meskipun tidak berada langsung pada jalur perdagangan internasional utama. Melalui hubungan tersebut, pengaruh kebudayaan India semakin dikenal.
Salah satu teori mengenai masuknya Hindu ke Nusantara menyebutkan peran kaum waisya, terutama para pedagang dari India. Mereka melakukan perjalanan melalui laut dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Dari sebuah perjumpaan perdagangan, lahirlah pertukaran yang jauh lebih besar.
Barang berpindah tangan.
Pengetahuan berpindah pikiran.
Keyakinan berpindah dari satu hati kepada hati yang lain.
Begitulah kebudayaan sering kali tumbuh: bukan melalui paksaan, tetapi melalui perjumpaan.
Ketika Keyakinan Mengubah Kehidupan
Sebelum berkembangnya Kerajaan Kutai, masyarakat setempat diketahui mengenal kepercayaan animisme dan dinamisme. Ketika pengaruh Hindu mulai berkembang, perubahan tidak berhenti pada persoalan kepercayaan. Pola kehidupan sosial ikut berubah, pemerintahan menjadi semakin terstruktur, hubungan ekonomi berkembang dan kehidupan politik mulai mengenal tata pemerintahan kerajaan.
Prasasti-prasasti Kutai memberikan gambaran mengenai masyarakat yang telah mengenal kehidupan kerajaan secara teratur, pengaruh India memang kuat, tetapi masyarakat setempat tidak sekadar menjadi penerima pasif. Mereka menyerap, menyesuaikan, lalu mengembangkan unsur kebudayaan tersebut dalam kehidupan mereka sendiri. Seperti pohon yang menerima hujan dari langit, tetapi tetap tumbuh dengan akar yang mencengkeram tanahnya sendiri.
Dari Kudungga untuk Generasi Hari Ini
Berabad-abad telah berlalu.
nama-nama yang dahulu disebut di istana kini menjadi bagian dari buku sejarah.
Namun warisan itu belum selesai.
Ia masih hidup di Kalimantan Timur.
Ia hadir dalam prasasti.
Ia hadir dalam museum.
Ia hadir dalam cerita yang terus diceritakan.
Salah satu tempat untuk menelusuri warisan tersebut adalah Museum Mulawarman di Tenggarong, Kalimantan Timur.
Museum ini berada di bekas istana Kerajaan Kutai Kartanegara dan menjadi salah satu ruang penting untuk mengenal sejarah serta kebudayaan Kalimantan Timur.
Di sana, generasi hari ini dapat melihat peninggalan masa lalu bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai pintu menuju pertanyaan yang lebih dalam.
Siapa kita sebelum menjadi seperti sekarang?
Apa yang diwariskan leluhur kepada kita?
Dan setelah menerima semua itu, apa yang akan kita wariskan kepada generasi berikutnya?
Sejarah Adalah Cermin
Kisah Kudungga mungkin bermula lebih dari seribu enam ratus tahun lalu.
Tetapi pertanyaannya masih terasa dekat.
Sebab manusia modern pun masih berada dalam perjalanan yang sama : mencari identitas, menerima perubahan, mengenal dunia luar, dan berusaha tetap memiliki akar.
Dunia terus bergerak.
Teknologi semakin cepat.
Generasi berganti.
Tetapi tanah leluhur tetap menjadi tempat kita berpijak.
Karena itu, mengenal Kutai bukan sekadar menghafal bahwa kerajaan tersebut berdiri sekitar abad ke-5 Masehi.
Bukan sekadar mengingat nama Kudungga, Aswawarman, atau Mulawarman.
Lebih dari itu, sejarah mengajak kita menundukkan kepala sejenak.
Mengingat bahwa sebelum kita hadir, telah ada manusia yang membangun kehidupan.
Mereka pernah bermimpi.
Mereka pernah berjuang.
Mereka pernah mencintai tanah tempat mereka hidup.
Dan akhirnya mereka meninggalkan dunia dengan hanya menyisakan jejak.
Mungkin itulah hukum paling lembut dari waktu:
manusia akan pergi, tetapi makna dari perjalanan hidupnya dapat tinggal lebih lama daripada tubuhnya.
Di hulu Mahakam, sejarah Kutai masih mengalir.
Seperti sungai yang tidak pernah bertanya siapa yang datang dan siapa yang pergi.
Ia hanya terus mengalir.
Membawa cerita.
Membawa ingatan.
Membawa pesan dari leluhur kepada anak cucu:
Kenalilah masa lalumu, agar langkahmu menuju masa depan tidak kehilangan arah.
Sumber:
Anton Dwi Laksono, Kebudayaan dan Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia, Derwati Pers, 2018.
Ekspedisi Kudungga, Total E&P Indonesie, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, dan Tempo Institute.
Digital Library Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, kajian mengenai asal-usul nama Kudungga.
#Avisapranatungga

