Suarastra.com – Taman-taman yang telah dibangun pemerintah di Kutai Kartanegara (Kukar) diharapkan tak lagi sekadar menjadi ruang untuk bersantai. Pemerintah ingin menjadikannya sebagai panggung kreativitas, tempat komunitas seni, musik, hingga pelaku ekonomi kreatif berkumpul dan berkarya.
Melalui konsep tersebut, Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar mulai mendorong pemanfaatan berbagai ruang publik agar lebih hidup melalui kegiatan yang digagas langsung oleh komunitas.
Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran Dispar Kukar, Awang Ivan Akhmad, mengatakan pemerintah ingin seluruh fasilitas publik yang telah tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai ruang berekspresi sekaligus membangun ekosistem ekonomi kreatif.
“Ke depan, kami ingin memanfaatkan ruang-ruang publik sebagai tempat bagi komunitas untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan seni, khususnya di fasilitas yang sudah dibangun pemerintah. Contohnya Taman Musik, Taman Tanjong, Taman Kota Raja, amfiteater, hingga kawasan Teras Pujasera,” ujar Ivan, pada Senin (13/07/26).
Menurut Ivan, gagasan tersebut merupakan arahan langsung Bupati Kukar agar ruang publik tidak hanya menjadi tempat berkumpul masyarakat, tetapi juga dipenuhi aktivitas positif yang melibatkan komunitas lokal.
Ia mengakui, upaya tersebut masih menghadapi tantangan, terutama kebijakan efisiensi anggaran. Karena itu, Dispar Kukar memilih mengedepankan kolaborasi dan semangat gotong royong sebagai langkah awal.
“Untuk tahap awal ini memang tantangannya adalah efisiensi anggaran. Karena itu kami memulai dengan kolaborasi dan swadaya. Pemerintah menyediakan tempat, sementara kebutuhan lainnya kami penuhi secara gotong royong, bahkan secara pribadi untuk keperluan seperti pencetakan spanduk dan sebagainya,” jelasnya.
Menurut Ivan, pola tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap penyelenggaraan event besar yang membutuhkan anggaran tinggi, namun hanya berlangsung sesaat.
Sebaliknya, pemerintah ingin menghadirkan kegiatan yang rutin dan berkelanjutan sehingga ruang publik terus hidup serta memberi ruang bagi komunitas untuk berkembang.
“Ketika Creative Hub sudah berfungsi, tempat itu akan menjadi ruang berkumpul bagi para pelaku seni. Di sana mereka bisa saling berbagi pengalaman, berdiskusi, dan menyiapkan regenerasi,” tutur Ivan.
Ke depan, Ivan bilang, setiap ruang publik di Kukar juga akan memiliki identitas dan konsep kegiatan yang berbeda. Seperti, kawasan Teras Pujasera, misalnya, direncanakan menjadi lokasi pertunjukan seni tari dan berbagai atraksi budaya.
Lanjutnya, sementara Taman Musik tetap difokuskan sebagai ruang bagi kegiatan musik, sedangkan amfiteater di bawah Jembatan Kartanegara diarahkan untuk pementasan teater, drama kolosal, maupun seni pertunjukan lainnya.
Terakhir, Ivan juga menegaskan, pembangunan ekosistem ekonomi kreatif tidak dapat dilakukan pemerintah sendirian. Peran komunitas menjadi kunci agar ruang-ruang publik benar-benar hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya kolaborasi ini dapat terus berlanjut, karena pemerintah tidak bisa membangun ekosistem ekonomi kreatif sendirian,” pungkasnya.
(Oby/Mii)

