Suarastra.com – Sampah plastik kini bukan lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, limbah plastik telah berkembang menjadi ancaman serius yang berdampak luas terhadap ekosistem, kesehatan manusia, hingga kondisi ekonomi masyarakat. Penggunaan plastik sekali pakai yang terus meningkat tanpa diimbangi pengelolaan memadai membuat pencemaran plastik semakin sulit dikendalikan.
Dari data Indonesia menghadapi kondisi darurat sampah plastik dengan timbunan mencapai 64 juta ton per tahun, di mana sekitar 12% atau 7,68 juta ton di antaranya adalah sampah plastik. Dan, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup plastik menyumbang 18,71% dari total sampah, dengan hanya 11% yang didaur ulang.
Sampah plastik menjadi persoalan serius karena membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami. Selama proses itu, plastik akan pecah menjadi partikel kecil bernama mikroplastik yang kemudian mencemari tanah, sungai, laut, bahkan udara.
Penelitian Ecoton pada 2025 menemukan mikroplastik telah mencemari udara di berbagai kota di Indonesia. Partikel-partikel kecil tersebut berasal dari pembakaran sampah, aktivitas transportasi, limbah tekstil, hingga penggunaan plastik sehari-hari. Mikroplastik bahkan ditemukan melayang di udara dan dapat terhirup manusia setiap hari.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan setelah kajian World Bank yang disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup mengungkap sekitar 95 persen sampel masyarakat Indonesia telah terpapar mikroplastik di dalam tubuhnya. Paparan tersebut diduga berasal dari makanan, air minum, udara, dan lingkungan sekitar yang telah tercemar plastik.
Dampak mikroplastik terhadap kesehatan juga mulai menjadi perhatian serius. Sejumlah penelitian menyebut partikel mikroplastik dapat masuk ke saluran pernapasan dan aliran darah manusia. Dalam jangka panjang, kondisi itu berpotensi memicu gangguan paru-paru, peradangan, gangguan hormon, hingga menurunkan fungsi kognitif otak.
Greenpeace Indonesia menyebut pencemaran mikroplastik bukan hanya ancaman lingkungan, tetapi juga ancaman kesehatan manusia. Organisasi tersebut menyoroti belum adanya standar pengawasan mikroplastik dalam pangan dan lingkungan di Indonesia.
Tidak hanya berdampak pada manusia, sampah plastik juga merusak ekosistem laut dan sungai. Hewan laut seperti ikan, penyu, lumba-lumba hingga burung laut sering ditemukan mati akibat menelan plastik atau terjerat limbah plastik di lautan. Plastik yang terbawa arus sungai akhirnya bermuara ke laut dan menjadi pencemar jangka panjang.
Kementerian Lingkungan Hidup menyebut pencemaran plastik di laut turut memberikan dampak ekonomi. Selain meningkatkan biaya pengelolaan sampah, pencemaran laut juga berdampak pada sektor perikanan, pariwisata, dan kesehatan masyarakat pesisir.
Di berbagai daerah, persoalan sampah plastik juga diperparah oleh kebiasaan membakar sampah secara terbuka. Kajian Ecoton menunjukkan pembakaran sampah menjadi penyumbang utama mikroplastik di udara Indonesia pada 2025 dengan kontribusi mencapai lebih dari 55 persen. Praktik tersebut menyebabkan partikel plastik beterbangan dan masuk ke sistem pernapasan manusia.
Selain pencemaran udara, sampah plastik juga berdampak pada kualitas tanah dan sumber air. Plastik yang tertimbun di tanah dapat menghambat penyerapan air, menurunkan kesuburan tanah, serta mencemari air tanah melalui kandungan zat kimia berbahaya yang terkandung di dalamnya.
Berbagai pihak kini mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai sebagai solusi utama. Sejumlah daerah di Indonesia mulai menerapkan pembatasan kantong plastik dalam aktivitas masyarakat, termasuk saat pembagian daging kurban pada Hari Raya Iduladha. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mengurangi lonjakan sampah plastik harian.
Pakar lingkungan menilai persoalan sampah plastik tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Kesadaran masyarakat menjadi faktor utama dalam mengurangi pencemaran plastik melalui kebiasaan sederhana seperti membawa tas belanja sendiri, memilah sampah rumah tangga, mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai, hingga mendukung program daur ulang.
Tanpa perubahan pola konsumsi dan pengelolaan sampah yang serius, pencemaran plastik diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Sampah yang hari ini dibuang sembarangan bukan hanya mencemari lingkungan saat ini, tetapi juga menjadi warisan masalah bagi generasi masa depan.
(Oby/Mii)

