Suarastra.com – Di balik ramainya aktivitas transportasi online di Tenggarong, para pengemudi ojek online (ojol) kini menghadapi tekanan yang semakin berat. Tingginya biaya operasional ditambah potongan aplikator yang masih berada di angka 20 persen membuat penghasilan driver semakin tergerus.
Ketua Komunitas GrabBike Tenggarong (GBT), Aria Putra, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan yang terus dirasakan para pengemudi hingga saat ini.
“Potongan aplikator sekarang sekitar 20 persen. Dari dulu memang seperti itu, cuma sekarang yang memberatkan karena biaya operasi naik, kebutuhan lain juga naik,” ujarnya, Rabu (06/05/2026) kemarin.
Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan biaya kendaraan membuat penghasilan driver tidak lagi sebanding dengan tenaga dan waktu yang dikeluarkan di lapangan.
Ia berharap ke depan ada kebijakan yang lebih berpihak kepada pengemudi, khususnya terkait sistem pembagian pendapatan antara aplikator dan driver.
“Harapannya ada pembagian yang lebih imbang antara biaya untuk kami dengan penghasilan yang didapat,” katanya.
Tak hanya soal potongan, Aria juga menyoroti jumlah driver yang terus bertambah di Tenggarong. Kondisi itu membuat persaingan antar pengemudi semakin ketat, meski jumlah orderan dinilai masih relatif stabil.
“Orderan sebenarnya masih tetap, tidak terlalu naik atau turun. Tapi penambahan driver terus ada, jadi penghasilannya makin terbagi,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, rata-rata pendapatan kotor pengemudi ojol disebut berada di kisaran Rp200 ribu per hari. Namun angka itu belum termasuk biaya bahan bakar, servis kendaraan, hingga kebutuhan operasional lainnya.
“Kalau bersih mungkin sekitar Rp100 ribuan per hari,” ucap Aria.
Jika dihitung secara konsisten selama satu bulan penuh, pendapatan pengemudi ojol diperkirakan berkisar sekitar Rp5 juta per bulan. Meski demikian, jumlah tersebut sangat bergantung pada kondisi orderan dan jam kerja masing-masing driver.
Bagi sebagian orang, pekerjaan sebagai pengemudi ojol bukan lagi sekadar pekerjaan tambahan, melainkan sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Kadang jadi pekerjaan utama, kadang sampingan. Kalau saya sendiri memang fokus di ojol saja,” tutupnya.
Di tengah perkembangan layanan transportasi digital, para driver berharap keberadaan mereka tidak hanya dipandang sebagai mitra kerja, tetapi juga bagian penting dari roda ekonomi masyarakat yang perlu mendapat perhatian lebih seimbang.
(Oby/Mii)

